Indonesia Japan Koi Show 2026 Digelar, Koi Lokal Siap Bersaing dengan Kualitas Mumpuni

- Minggu, 08 Februari 2026 | 10:00 WIB
Indonesia Japan Koi Show 2026 Digelar, Koi Lokal Siap Bersaing dengan Kualitas Mumpuni

Pameran Koi Bergengsi Kembali Digelar di Bogor

Bogor kembali menjadi tuan rumah Indonesia Japan Koi Show (IJKS) untuk tahun 2026. Acara ini bukan sekadar pameran keindahan ikan hias. Lebih dari itu, ia berperan memperkuat jaringan industri ikan hias dalam negeri dan tentu saja, mengokohkan hubungan bilateral antara Indonesia dan Jepang.

Menurut Sora Lokita, Ketua Yayasan Koi Indonesia, antusiasme peserta tahun ini cukup tinggi. Mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia. Tak ketinggalan, juri dan peserta dari mancanegara seperti Malaysia, Singapura, China, dan tentu saja Jepang juga turut meramaikan. Total, ada sekitar 30 juri yang terlibat.

"Tahun ini diikuti 1.044 ikan koi dengan 480 pemilik dan 103 handling," ujar Sora, Minggu (8/2/2026).

Ia memaparkan, ada enam kategori yang dilombakan. Mulai dari Best in Size, Best in Variety, Champion, Grand Champion Indonesia, Male Champion, hingga Reguler.

Di sisi lain, Sora punya harapan besar. Ia ingin industri koi bisa dinikmati oleh semua kalangan, dari desa sampai kota. Menurutnya, industri ini tidak boleh hanya mengandalkan ikan impor. Koi lokal Indonesia harus bisa tampil dan bersaing.

"Koi lokal lahir di Indonesia, sedangkan koi impor lahir di Jepang atau Tiongkok. Secara kualitas, koi lokal tidak kalah. Penilaian dalam perlombaan pun tetap sama," katanya tegas.

Ia mengakui, dulu sempat ada masalah. Praktik persilangan koi dengan ikan mas sempat merusak kualitas dan identitas koi lokal. Namun begitu, situasinya sudah berubah. Para pembudidaya sekarang jauh lebih peduli dengan kemurnian genetik. Hasilnya, kualitas koi Indonesia kini mumpuni dan siap bersaing dengan koi dari Jepang.

Soal harga? Variasinya luar biasa. Ada yang dijual ratusan ribu, tapi ada juga yang harganya mencapai ratusan juta rupiah, terutama untuk koi-koi juara kontes. Ikan untuk kontes biasanya sudah dilengkapi sertifikat dari pembudidaya. Beberapa breeder lokal bahkan sudah menerapkan sistem sertifikasi sendiri.

Dukungan Pemerintah dan Kontribusi Devisa

Acara ini mendapat apresiasi dari pemerintah. Mahmud, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, menyebut IJKS 2026 sebagai sarana strategis untuk mendongkrak pertumbuhan industri ikan nasional, khususnya koi.

Faktanya, Indonesia adalah pengekspor ikan hias terbesar kedua di dunia, hanya di bawah Jepang. Nilai ekspor Jepang sekitar 48 juta dolar AS, sementara Indonesia menyusul ketat di angka 40 juta dolar AS termasuk di dalamnya komoditas koi.

Produksi ikan hias nasional juga terus naik. Dari 1,49 miliar ekor di tahun 2020, menjadi 1,58 miliar ekor pada 2024. Peningkatan ini jelas menunjukkan peran vital industri hias dalam menyumbang devisa negara.

“Melalui IJKS 2026, kami ingin membuktikan bahwa kualitas ikan hias dalam negeri tidak kalah dengan luar negeri, khususnya koi asal Jepang,” kata Mahmud.

Ia menambahkan, "Mari kita jadikan koi sebagai simbol persahabatan abadi antara Indonesia dan Jepang serta simbol kebangkitan ekonomi perikanan nasional."

Untuk mendukung hal itu, KKP telah menyiapkan sejumlah langkah. Mulai dari penguatan kampung budidaya, peningkatan standar mutu, pengembangan riset genetik, hingga dukungan pemasaran dan kontes.

Peran Penting Karantina

Shahandra Hanitiyo, Sekretaris Utama Badan Karantina Indonesia, melihat IJKS sebagai cermin persahabatan kuat kedua negara. Ia membeberkan data, impor koi dari Jepang ke Indonesia periode terakhir mencapai 29.313 ekor. Nilai komoditasnya sekitar Rp6,42 miliar.

“Angka tersebut menunjukkan kuatnya perdagangan bilateral,” katanya.

Namun, potensi besar ini harus diimbangi dengan sistem karantina yang tangguh. Badan Karantina berkomitmen memastikan setiap pergerakan ikan hidup, baik untuk pameran atau dagang, memenuhi prinsip kesehatan dan biosekuriti yang ketat. Pengawasan, sertifikasi, dan sistem ketertelusuran diperkuat untuk mencegah penyebaran penyakit dan memfasilitasi perdagangan global.

Lebih Dari Sekadar Ikan

Prof Arif Satria, Kepala BRIN, berharap acara ini memberi manfaat yang luas. Ia menilai koi membawa nilai yang kompleks; estetika, ekologi, ekonomi, hingga sosial-budaya.

“Semoga kegiatan ini dapat menumbuhkan minat masyarakat terhadap koi serta menjadi wujud kebersamaan dan persahabatan,” harapnya.

Harapan serupa disampaikan Wakabayashi Hajime, Fisheries Attache Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia. Ia berharap IJKS 2026 semakin merapatkan hubungan kedua negara dan memberi dampak positif bagi industri ikan hias di Indonesia.

"Dengan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, asosiasi, dan pelaku usaha, Indonesia Japan Koi Show 2026 diharapkan terus menjadi jembatan kerja sama strategis," pungkasnya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar