Industri Otomotif RI Tembus Investasi Rp194,2 Triliun, Kendaraan Listrik Melonjak

- Sabtu, 07 Februari 2026 | 14:30 WIB
Industri Otomotif RI Tembus Investasi Rp194,2 Triliun, Kendaraan Listrik Melonjak

Kalau kita lihat per segmen, nasibnya beda-beda. Kendaraan LCGC (Low Cost Green Car) misalnya, lagi tertekan. Penjualannya anjlok lebih dari 30 persen sepanjang 2025. Pemerintah pun berusaha memberi perhatian lewat skema insentif fiskal yang diharapkan bisa memulihkan segmen ini.

Sebaliknya, kendaraan elektrifikasi justru meroket. Penjualan mobil listrik baterai melonjak drastis dari 43.194 unit di 2024 menjadi 103.931 unit setahun kemudian. Hybrid tumbuh 15 persen, sementara plug-in hybrid naik signifikan dari hanya puluhan unit menjadi lebih dari 5.000 unit. Secara total, penjualan kendaraan ramah lingkungan ini mencapai 175.144 unit atau sekitar 21,8 persen dari total pasar nasional.

Menanggapi tren ini, Agus menegaskan komitmen pemerintah. Ekosistem kendaraan listrik terus diperkuat dari hulu ke hilir. “Termasuk pengoperasian pabrik sel baterai berkapasitas 10 GWh serta sejumlah fasilitas produksi battery pack,” jelasnya.

Ada juga proyek terintegrasi pengembangan baterai dengan nilai investasi fantastis, USD5,9 miliar. Proyek ini diproyeksikan bisa memberi nilai tambah ekonomi hingga USD48 miliar bagi Indonesia. Upaya-upaya ini sejalan dengan Program Low Carbon Emission Vehicle yang sudah melibatkan 15 perusahaan dan menarik investasi tambahan lebih dari Rp22 triliun.

Maka, menurut Agus, penyelenggaraan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 nanti punya arti strategis. Bukan cuma untuk percepatan pemulihan, tapi juga mengukuhkan transformasi industri otomotif nasional ke arah yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.

“Kami berharap IIMS 2026 bisa jadi katalis penting. Memperkuat fondasi pertumbuhan, jadi ruang strategis untuk berbagai inisiatif, meningkatkan kepercayaan konsumen, memperluas adopsi kendaraan ramah lingkungan, serta mendorong investasi dan inovasi,” katanya.

Peran industri pengolahan non-migas sendiri memang tak main-main. Sepanjang kuartal I-III 2025, sektor ini tumbuh 5,17 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang 5,01 persen. Kontribusinya terhadap PDB mencapai 17,27 persen atau setara Rp3.051,58 triliun. Ekspornya menyumbang lebih dari 80 persen total ekspor nasional, dengan nilai USD227,10 miliar. Dari sisi investasi, sumbangannya Rp552 triliun, dan yang paling krusial: menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja.

Jelas, denyut nadi sektor manufaktur dengan otomotif sebagai salah satu ujung tombaknya masih berdetak kencang menggerakkan perekonomian.

Editor: Dewi Ramadhani


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar