Suaranya terdengar berat. Menurut Rocky, buku tulis seharusnya jadi hak dasar yang dijamin negara untuk setiap anak Indonesia.
"Buku tulis adalah kemampuan seseorang untuk memperlihatkan bahwa dia berniat untuk menjadi pemimpin di masa depan," jelasnya.
"Menjadi berguna bagi bangsa, menjadi seseorang yang terdidik tanpa dia harus mengatakan bahwa dia ingin memperoleh bonus demografi."
Ia kemudian menandaskan, "Jadi kita ada di dalam kondisi semacam itu untuk mulai membaca bagaimana disparitas pada akhirnya menghasilkan misery (penderitaan)."
Kata-katanya seperti menggambarkan dua dunia yang berjalan sendiri-sendiri. Di satu sisi, narasi keberhasilan dikumandangkan lantang. Di sisi lain, di balik gemerlap angka pertumbuhan, masih ada realitas getir yang tak terbantahkan: seorang anak harus kehilangan nyawa hanya karena sebuah buku tulis.
Ironis, bukan? Sebuah peristiwa yang seharusnya membuat kita semua berhenti sejenak dan merenung.
Artikel Terkait
Prabowo Undang Pimpinan NU, Muhammadiyah, dan MUI Bahas Inisiatif Perdamaian Trump
Prabowo Geram: Sampah di Bali Dinilai Ancam Pariwisata Nasional
Rp 992 Triliun dari Tambang Ilegal, Satgas Buru Lokasi di Hutan
Gempa Dangkal M 4,1 Guncang Bener Meriah di Pagi Buta