Dari Sentul, kabar terbaru soal perundingan dagang Indonesia dan Amerika Serikat akhirnya sampai juga. Intinya, semua pembicaraan pokok sudah beres. Yang tersisa kini cuma urusan teknis: menyelaraskan dan menyempurnaan naskah hukumnya sebelum ditandatangani.
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto yang memberikan konfirmasi ini, Senin lalu. Menurutnya, setelah fine tuning di bagian legal drafting selesai, langkah berikutnya tinggal menunggu waktu yang tepat.
"Negosiasi dengan Amerika seluruh pembicaraan sebetulnya sudah selesai. Tinggal fine tuning di legal drafting, dan berikutnya tinggal menunggu jadwal yang akan ditentukan, jadwal bersama antara Bapak Presiden (Prabowo) dan Presiden Trump,"
ujar Airlangga di Sentul, Kabupaten Bogor.
Nah, soal kapan persisnya penandatanganan itu akan digelar, tampaknya masih perlu penyesuaian. Agenda internasional yang padat disebut-sebut jadi penyebabnya. Ada dinamika, termasuk rencana penandatanganan kesepakatan Dewan Perdamaian Dunia, yang membuat jadwal pertemuan kedua presiden sedikit bergeser dari rencana awal.
Meski begitu, Airlangga menegaskan bahwa kesepakatan perdamaian itu bukan bagian langsung dari negosiasi tarif dengan AS. Hanya saja, isu perdamaian memang sedang mendominasi percakapan global belakangan ini.
"Enggak, tetapi kan biar bagaimana prioritas-prioritas yang ada tentu terkait dengan agenda-agenda yang ditandatangani. Kemarin waktu di Davos memang semua bicaranya masalah, ya perdamaian lah. Dan juga terhadap perang yang ada, baik itu Ukraina maupun Gaza,"
pungkasnya.
Lantas, berapa besar nilai investasi atau keuntungan konkret yang bakal diraih Indonesia? Sayangnya, itu belum bisa diungkap ke publik. Pemerintah beralasan kedua pihak masih terikat perjanjian kerahasiaan atau NDA.
"Nanti belum, karena kita masih ada Non-Disclosure Agreement. Baru di-disclose sesudah ditandatangani,"
kata Airlangga singkat.
Jadi, semua mata kini tertuju pada penjadwalan ulang pertemuan puncak itu. Tinggal menunggu waktu yang pas bagi Presiden Prabowo dan Presiden Trump untuk bertemu dan memberi tanda tangan resmi.
Artikel Terkait
Indonesia Diproyeksikan Jadi Pasar Penerbangan Terbesar Keempat Dunia pada 2030, Tantangan MRO Masih Membayangi
Anthropic Siapkan Dana Rp3.200 Triliun untuk Google Cloud, Jadi Kontrak AI Terbesar
Pemerintah Pastikan Kesiapan SDM Kompeten untuk Penuhi Kebutuhan Industri Kendaraan Listrik
QRIS Antarnegara Indonesia-China Resmi Berlaku, UMKM Bisa Terima Pembayaran Wisatawan China