Bencana hidrometeorologi yang menerjang sejumlah wilayah di Sumatera ternyata membawa dampak tak terduga pada harga-harga. Setelah sempat mengalami inflasi di penghujung tahun 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat justru mengalami deflasi pada Januari 2026. Angka-angka ini jadi sorotan, terutama karena berlawanan dengan tren nasional.
Dari ketiga provinsi itu, Sumatera Barat tercatat mengalami penurunan harga terdalam. Deflasi di sana mencapai 1,15 persen. Sementara itu, Sumatera Utara berada di angka 0,75 persen, dan Aceh 0,15 persen. "Secara umum, komoditas kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi terbesar di ketiga provinsi tersebut," jelas Ateng Hartono, Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, dalam rilisnya di Jakarta, Senin (2/2/2026).
Menurut Ateng, fenomena ini tak lepas dari dampak bencana yang memutus rantai distribusi dan menekan daya beli masyarakat di wilayah terdampak.
Namun begitu, gambaran jangka panjangnya berbeda. Secara tahunan, inflasi Januari 2026 terhadap Januari 2025 justru lebih tinggi, yakni 3,55 persen. Angka ini melampaui inflasi tahunan di periode yang sama tahun sebelumnya. Pendorong utamanya? Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang melonjak 11,93 persen, memberikan andil signifikan sebesar 1,72 persen terhadap inflasi nasional.
Secara bulanan, BPS juga melaporkan deflasi nasional sebesar 0,15 persen pada Januari 2026 dibanding Desember 2025. Indeks Harga Konsumen (IHK) pun turut merosot, dari 109,92 menjadi 109,75. Jadi, meski secara nasional ada penurunan harga bulanan, situasi di Sumatera terutama di Barat jauh lebih dalam. Sebuah ironi di tengah musibah.
Artikel Terkait
Misteri Pengendali IBC: BUMN Raksasa Bersatu tapi Tanpa Nahkoda
OJK dan ADB Pacu Obligasi Hijau ASEAN+3 di Yogyakarta
Promotor Senior Diduga Gelap Rp10 Miliar Dana Konser BTS
Pemerintah Buka 1.500 Kursi Vokasi Pertanian, 70% Prioritas Anak Petani