JAKARTA – Kekhawatiran warga soal bau dan pencemaran dari fasilitas pengolahan sampah RDF Plant Rorotan mendapat tanggapan dari Dinas Lingkungan Hidup DKI. Menurut DLH, operasional di lokasi itu tidak berjalan penuh, melainkan bertahap. Pengawasan ketat dilakukan, mulai dari truk pengangkut sampah sampai proses pengolahannya di dalam pabrik.
Menurut sejumlah saksi, ada keluhan dari masyarakat sekitar. Namun begitu, pihak DLH berusaha menenangkan dengan menjelaskan skala operasi yang masih terbatas.
Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menyebut RDF Rorotan saat ini hanya beroperasi lima hari seminggu dengan dua shift. Sabtu dan Minggu dipakai untuk bersih-bersih dan penataan area.
Fasilitas ini menerima kiriman sampah dari enam kecamatan di Jakarta Utara dan lima kecamatan di Jakarta Timur. Setiap kali ada rencana penambahan kapasitas, DLH mengklaim sistem pengendalian emisi dan bau diperiksa ulang agar benar-benar optimal. Mereka juga fokus pada masalah pengangkutan, yang kerap jadi sumber keluhan.
Di sisi lain, Asep menegaskan soal armada angkut. “Tidak ada lagi kendaraan terbuka yang masuk ke RDF Plant Rorotan. Truk compactor tertutup ini dirancang untuk mencegah bau dan ceceran air lindi di sepanjang jalur pengangkutan,” tegasnya.
Artikel Terkait
Insentif Impor Mobil Listrik Berakhir, Pemerintah Yakin Investasi Tak Lari
Banjir dan Abrasi Serentak Landa Dua Desa di Halmahera Timur
Deepal S07 Siap Meluncur, Unit Perdana Tiba Awal Februari 2026
Waspada Guyuran dan Angin Kencang, Jabodetabek Diguyur Hujan Sepanjang Hari