Insentif Impor Mobil Listrik Berakhir, Pemerintah Yakin Investasi Tak Lari

- Senin, 02 Februari 2026 | 06:36 WIB
Insentif Impor Mobil Listrik Berakhir, Pemerintah Yakin Investasi Tak Lari

Insentif impor mobil listrik utuh (CBU) resmi berakhir. Menanggapi hal ini, pemerintah lewat Deputi Bidang Infrastruktur Dasar Kemenko Perekonomian, Rachmat Kaimuddin, yakin iklim investasi di dalam negeri takkan terganggu. Menurutnya, para pelaku industri pasti sudah paham betul dengan aturan main yang berlaku.

“Harusnya sih enggak, ya,” ujar Rachmat saat ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu.

Ia lantas menjelaskan alasan di balik keyakinannya itu. “Pada saat kami rancang program tersebut, mereka diwajibkan untuk berinvestasi di sini. Itu sudah menjadi bagian dari deal, mereka boleh impor selama dua tahun. Investasinya masuk dan komitmennya sudah dipegang.”

Jadi, bagaimana kelanjutannya setelah insentif impor dicabut? Rachmat menjawab dengan lugas.

“Ya sudah harus mulai di dalam negeri dahulu. Tadi kan investasi sudah masuk, BKPM juga sudah pegang. Sudah pegang jaminan, kita berharapnya tidak gagal, ya dan dari pemainnya sudah komitmen. Jadi mudah-mudahan pasarnya jalan terus,” tambahnya.

Kebijakan bebas bea masuk untuk mobil listrik CBU sebenarnya punya landasan hukum yang panjang. Semua berawal dari PP Nomor 73 Tahun 2019, lalu diperbarui lewat PP 74 Tahun 2021, dan yang terakhir adalah Perpres 79 Tahun 2023. Aturan lebih teknisnya lagi ada di Peraturan Menteri Investasi Nomor 6 Tahun 2024.

Nah, di aturan menteri itulah dijelaskan, pabrikan yang impor CBU dengan komitmen investasi bisa dapat keringanan. Bea masuknya jadi 0 persen, padahal tarif normalnya 50 persen. Belum lagi PPnBM yang seharusnya 15 persen juga dihapuskan.

“Jadi kalau dibilang kokoh tidak ada insentif (tambahan), selalu ada preferensi tarif yang kita punya,” jelas Rachmat. “Masih ada, cukup besar, dan signifikan, sebenarnya kita seperti kembali ke awal 2022.”

Di sisi lain, Rachmat melihat kondisi pasar sudah jauh berbeda. Pertumbuhan kendaraan listrik murni atau BEV di dalam negeri dinilainya mulai menunjukkan tren positif. Karena itu, stimulus instan lewat impor CBU dianggap tak lagi diperlukan.

“Melihat growth-nya semakin eksponensial. Jadi bukan lagi eksotis atau niche, tetapi sudah masuk ke industri,” terangnya. “Berbagai negara besar, terutama China itu 50 persen bahkan sudah BEV dan PHEV.”

Dampak dari Perpres terbaru pun disebutnya sudah kelihatan. Populasi BEV yang awalnya cuma sekitar 17 ribu unit sepanjang 2023, melonjak drastis menjadi 103 ribu unit hingga akhir 2025. Ini angka yang cukup mencengangkan.

Rachmat juga menegaskan, insentif dari pemerintah sebenarnya masih banyak. “Iya, karena sebenarnya pemerintah itu sudah cukup banyak memberikan insentif,” katanya.

“Ada Bea Balik Nama 0 persen sudah sejak 2022 hingga kini masih berlaku, kemudian PPnBM hingga pajak barang mewah juga 0 persen, harusnya kan kena 15 persen. Lalu pajak kendaraan bermotor atau PKB juga masih 0 persen. Ini juga sudah ada sejak dahulu dan masih diterapkan hingga sekarang. Jadi memang sudah cukup banyak (insentif),” pungkasnya.

Yang menarik, komitmen investasi para pabrikan justru meningkat dalam tiga tahun terakhir. Awalnya cuma dua merek di 2023, sekarang sudah membengkak jadi puluhan. Mereka menjalankan berbagai skema untuk memenuhi komitmennya.

Daftar mereknya panjang, mulai dari Wuling, Hyundai, Chery, sampai yang terbaru seperti Changan. Ada juga GAC, GWM, MG, VinFast, bahkan merek-merek Eropa semacam Volkswagen dan Citroen ikut meramaikan. Semuanya berinvestasi, menandakan pasar otomotif listrik Indonesia masih dianggap menjanjikan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler