MURIANETWORK.COM - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menegaskan bahwa program SMA Unggul Garuda memiliki konsep dan landasan yang berbeda dengan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Program RSBI sendiri telah dibubarkan sejak 2013 lalu setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakannya inkonstitusional karena dinilai menciptakan diskriminasi dan mengikis penggunaan bahasa Indonesia. Penegasan ini disampaikan untuk menjawab kekhawatiran publik yang menyamakan kedua program tersebut.
Perbedaan Mendasar dengan RSBI
Vira Agustina, Ketua Tim Aspek Akademik SMA Unggul Garuda, menjelaskan bahwa perbedaan mendasar terletak pada sasaran peserta didiknya. Jika RSBI dahulu ditujukan untuk meningkatkan sekolah umum menuju standar internasional, SMA Unggul Garuda dirancang khusus untuk menyediakan pendidikan yang sesuai bagi anak-anak dengan kemampuan akademik istimewa, atau yang dikenal sebagai anak cerdas istimewa berbakat istimewa (CIBI).
“Negara itu berupaya menghadirkan berbagai menu pendidikan sesuai kebutuhan anak. Sebetulnya itu yang kita lakukan (di Sekolah Garuda),” ucap Vira dalam sosialisasi PPDB SMA Unggul Garuda Baru di Kantor Kemendiktisaintek, Rabu 18 Februari 2026.
Dari segi konsep, program ini diyakini tidak akan mengulangi nasib RSBI. Vira menilai, perbedaan sasaran ini membawa implikasi pada pendekatan dan implementasi yang secara fundamental tidak sama.
Mengenal Sasaran Anak CIBI
Anak-anak yang menjadi sasaran SMA Unggul Garuda ini memiliki karakteristik khusus. Mereka umumnya memiliki tingkat kecerdasan intelektual (IQ) di atas 130, dengan kemampuan analisis, daya ingat, dan kedalaman berpikir yang berada di atas rata-rata anak seusianya.
Populasi anak dengan kategori CIBI ini terbilang langka. Menurut data yang diungkapkan Vira, mereka hanya mencakup sekitar 2,2 persen hingga 5 persen dari total populasi global. Oleh karena itu, program pendidikan khusus dinilai diperlukan untuk mengoptimalkan potensi mereka.
Komitmen Pemerataan dan Keterbukaan
Menanggapi isu diskriminasi yang pernah melekat pada RSBI, Vira menekankan bahwa SMA Unggul Garuda justru bertujuan untuk mewujudkan pemerataan akses pendidikan bermutu tinggi. Sekolah ini sepenuhnya didanai oleh negara dan tersebar di berbagai daerah untuk memastikan anak-anak berprestasi dari seluruh penjuru tanah air dapat terjangkau.
“Didanai penuh oleh negara, dan tersebar di berbagai daerah,” imbuhnya.
Kesempatan ini juga terbuka luas, termasuk bagi siswa dari kalangan menengah ke bawah dan lulusan pendidikan nonformal. Vira memberikan contoh konkret mengenai prinsip keterbukaan ini.
“Misalnya ada anak dari lulusan paket B atau homeschooling (sekolah rumah). Sepanjang dia memenuhi persyaratan, maka boleh mendaftar dan boleh jadi bagian dari Sekolah Garuda. Jadi ini sangat terbuka, tidak ada biaya tambahan lagi,” tuturnya.
Penegasan Bukan Sekadar Rebranding
Di akhir penjelasannya, Vira kembali menegaskan bahwa SMA Unggul Garuda bukanlah bentuk pembaruan citra atau rebranding dari program RSBI. Pemerintah berharap pemahaman publik dapat lebih jernih dalam memandang inisiatif pendidikan yang baru ini.
“Jadi memang ini bukan rebranding RSBI. Karakteristiknya tidak sama, konsepnya memang berbeda,” tegas Vira menutup paparannya.
Dengan penjelasan yang berlapis ini, Kemendiktisaintek berusaha membangun kepercayaan sekaligus mengedukasi publik bahwa program SMA Unggul Garuda hadir dengan filosofi dan mekanisme yang telah dikaji ulang, berangkat dari pembelajaran atas program-program serupa di masa lalu.
Artikel Terkait
TNI Tegaskan Keterlibatan Berkelanjutan dalam Pemulihan Bencana Sumatera
Analis: Peluang Duet Prabowo-Sjafrie di Pilpres 2029 Dinilai Minim
28 Tokoh Nasional Ajukan Amicus Curiae untuk Direktur Jak TV di Sidang Tipikor
Media Group Network Apresiasi 37 Jurnalis di Hari Jurnalis ke-6