Kemendiktisaintek Tegaskan SMA Unggul Garuda Bukan Lanjutan RSBI

- Rabu, 18 Februari 2026 | 23:00 WIB
Kemendiktisaintek Tegaskan SMA Unggul Garuda Bukan Lanjutan RSBI

MURIANETWORK.COM - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menegaskan bahwa program SMA Unggul Garuda memiliki konsep dan landasan yang berbeda dengan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Program RSBI sendiri telah dibubarkan sejak 2013 lalu setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakannya inkonstitusional karena dinilai menciptakan diskriminasi dan mengikis penggunaan bahasa Indonesia. Penegasan ini disampaikan untuk menjawab kekhawatiran publik yang menyamakan kedua program tersebut.

Perbedaan Mendasar dengan RSBI

Vira Agustina, Ketua Tim Aspek Akademik SMA Unggul Garuda, menjelaskan bahwa perbedaan mendasar terletak pada sasaran peserta didiknya. Jika RSBI dahulu ditujukan untuk meningkatkan sekolah umum menuju standar internasional, SMA Unggul Garuda dirancang khusus untuk menyediakan pendidikan yang sesuai bagi anak-anak dengan kemampuan akademik istimewa, atau yang dikenal sebagai anak cerdas istimewa berbakat istimewa (CIBI).

“Negara itu berupaya menghadirkan berbagai menu pendidikan sesuai kebutuhan anak. Sebetulnya itu yang kita lakukan (di Sekolah Garuda),” ucap Vira dalam sosialisasi PPDB SMA Unggul Garuda Baru di Kantor Kemendiktisaintek, Rabu 18 Februari 2026.

Dari segi konsep, program ini diyakini tidak akan mengulangi nasib RSBI. Vira menilai, perbedaan sasaran ini membawa implikasi pada pendekatan dan implementasi yang secara fundamental tidak sama.

Mengenal Sasaran Anak CIBI

Anak-anak yang menjadi sasaran SMA Unggul Garuda ini memiliki karakteristik khusus. Mereka umumnya memiliki tingkat kecerdasan intelektual (IQ) di atas 130, dengan kemampuan analisis, daya ingat, dan kedalaman berpikir yang berada di atas rata-rata anak seusianya.

Populasi anak dengan kategori CIBI ini terbilang langka. Menurut data yang diungkapkan Vira, mereka hanya mencakup sekitar 2,2 persen hingga 5 persen dari total populasi global. Oleh karena itu, program pendidikan khusus dinilai diperlukan untuk mengoptimalkan potensi mereka.

Komitmen Pemerataan dan Keterbukaan

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar