Rupanya, program insentif impor dari awal memang dirancang untuk berakhir. “Tujuannya memang agar yang impor segera memproduksi produknya di dalam negeri,” kata Rachmat lagi.
Dan strategi itu sepertinya membuahkan hasil. Populasi kendaraan listrik yang awalnya hanya sekitar 17 ribu unit di 2023, melonjak drastis menjadi 103 ribu unit pada akhir 2025. Sebuah peningkatan yang cukup signifikan.
Kini, fokus pemerintah bergeser. “Apa yang harus dijaga? Tentunya BBNKB dan PKB kita minta untuk dipertahankan,” imbuhnya.
Dorongan untuk meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) juga semakin kuat. Rachmat berharap pabrik-pabrik yang belum jadi bisa segera rampung, dengan target TKDN mencapai 60 persen.
Lalu, bagaimana dengan iklim investasi? Rachmat yakin, berakhirnya beberapa program insentif tidak akan mengganggu minat investor.
“Pada saat kami rancang program tersebut, mereka diwajibkan untuk berinvestasi di sini. Itu sudah menjadi bagian dari deal,” pungkasnya.
Komitmen investasi itu nyatanya terus mengalir. Dalam paparannya, dari yang awalnya hanya dua merek di 2023, kini puluhan merek telah menyatakan komitmennya. Daftarnya panjang, mulai dari Wuling, Hyundai, Chery, hingga merek-merek terbaru seperti Changan.
Jadi, meski satu pintu insentif tertutup, pintu lain untuk pertumbuhan industri kendaraan listrik dalam negeri justru terbuka lebar. Perjalanannya masih panjang, tapi setidaknya langkah awalnya sudah terlihat.
Artikel Terkait
Dari Lintasan Balap ke Lapangan Hijau: Nadia, Bocah 12 Tahun yang Jadi Mesin Gol
Eńau dan Ari Lesmana Rangkul Duka dalam Sesi Potret
Kemkominfo Ungkap 110 Juta Anak RI di Dunia Maya, Pengawasan Orang Tua Jadi Kunci
ASEAN dan India Pacu Wisata Kapal Pesiar, Rute Baru dan Konektivitas Jadi Fokus