Jakarta digegerkan oleh kabar besar dari dunia industri. PT Aneka Tambang Tbk, atau yang lebih dikenal sebagai Antam, baru saja mengumumkan kerja sama strategisnya. Mereka membentuk konsorsium dengan raksasa teknologi asal China untuk membangun ekosistem baterai kendaraan listrik dari nol. Nilainya? Fantastis. Sekitar 6 miliar dolar AS, atau kalau dirupiahkan dengan kurs saat ini, tembus angka Rp100 triliun lebih.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, tampak bersemangat menjelaskan proyek ambisius ini. Menurutnya, untuk membangun industri baterai yang tangguh, dukungan mitra internasional masih sangat dibutuhkan. Terutama untuk urusan transfer teknologi, membuka akses pasar global, dan tentu saja, manajemen yang lebih profesional.
Ucap Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Sabtu lalu.
Bayangkan saja, kapasitas produksi baterai listrik yang ditargetkan mencapai 20 Giga Watt hour (GWh). Angka itu bukan main-main. Jika semuanya berjalan mulus, ekosistem baterai di dalam negeri ini berpotensi menjadi salah satu yang terbesar se-Asia. Imbasnya ke lapangan kerja juga signifikan, diperkirakan bisa menyerap sekitar 10.000 tenaga kerja baru. Rincian teknisnya tentu masih akan dikaji lebih dalam melalui studi kelayakan yang sedang disiapkan.
Namun begitu, manfaat proyek ini ternyata lebih luas dari sekadar mobil listrik. Bahlil menegaskan, baterai yang akan diproduksi juga dirancang untuk mendukung program energi hijau pemerintah. Misalnya, untuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Artikel Terkait
Saham Samsung Electronics Melonjak 5% Didorong Isyarat Kerja Sama dengan Nvidia
Kapolri dan Ketua Komisi IV DPR Tinjau Rehabilitasi Habitat Gajah Sumatera di Tesso Nilo
Korlantas Polri Terapkan Sistem Satu Arah Sepenggal di Tol Trans Jawa untuk Antisipasi Macet Mudik
Menteri ESDM Sambut Angin Segar Kelonggaran Lintas Kapal di Selat Hormuz