Yen Melemah Meski BOJ Akhiri Era Suku Bunga Nol

- Sabtu, 20 Desember 2025 | 11:00 WIB
Yen Melemah Meski BOJ Akhiri Era Suku Bunga Nol

Jepang akhirnya bergerak. Jumat lalu, Bank of Japan (BOJ) memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin, menjadi 0,75 persen. Ini bukan sekadar angka. Langkah tersebut, yang pertama sejak Januari lalu, menandai babak baru yang signifikan. Bahkan, level suku bunga ini adalah yang tertinggi yang pernah mereka catat sejak September 1995. Era kebijakan moneter ultra-longgar yang telah membayangi perekonomian Jepang selama puluhan tahun, secara resmi mulai berakhir.

Reaksi pasar? Cukup beragam. Di satu sisi, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) untuk tenor 10 tahun langsung melesat, menembus level psikologis 2 persen. Namun di sisi lain, respons mata uang justru terasa datar. Yen malah melemah, sempat menyentuh kisaran 157 per dolar AS. Ini jelas menunjukkan satu hal: kenaikan suku bunga itu sudah diantisipasi bahkan mungkin sudah ‘diharga matang’ oleh para pelaku pasar jauh sebelum pengumuman resmi keluar.

Dalam konferensi persnya, Gubernur BOJ Kazuo Ueda terlihat sangat berhati-hati. Dia sama sekali tidak memberikan petunjuk konkret tentang kapan, atau seberapa besar, kenaikan suku bunga berikutnya akan terjadi.

“Arah kebijakan ke depan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi, inflasi, dan kondisi sektor keuangan,” tegas Ueda.

Meski sudah naik, dia mengakui bahwa suku bunga saat ini masih jauh dari apa yang disebut tingkat ‘netral’. Itu adalah level di mana suku bunga tidak lagi mendorong atau justru menghambat pertumbuhan. Mencari titik netral itulah yang kini jadi fokus utama BOJ.

Ueda juga menekankan satu faktor krusial: kenaikan upah. Menurutnya, jika momentum kenaikan gaji tetap kuat dan meluas ke lebih banyak sektor, BOJ tetap punya ruang untuk bertindak lagi. Hal ini berlaku bahkan jika inflasi inti sempat mendingin dan turun di bawah target 2 persen mereka untuk sementara waktu.

Lalu, ke mana arahnya nanti? Analis dari Stockbit menilai, dinamika komunikasi antara Gubernur Ueda dan Perdana Menteri Sanae Takaichi akan jadi hal yang patut dicermati. Takaichi dikenal memiliki pandangan yang lebih ‘dovish’ atau lunak soal kebijakan moneter. Interaksi keduanya bisa memberi sinyal penting.

Langkah BOJ ini semakin mempertegas kontras dengan bank sentral lain di dunia. Sementara Jepang mulai mengetatkan, The Fed di AS dan Bank Indonesia justru sudah beberapa kali memangkas suku bunga mereka. Selisih suku bunga AS-Jepang memang mulai menyempit, tapi ternyata belum cukup untuk menghentikan tekanan pelemahan pada yen.

Dari kacamata global, ada kekhawatiran soal likuiditas. Kenaikan suku bunga Jepang berpotensi memicu pembalikan ‘yen carry trade’, sebuah strategi di mana investor meminjam uang murah dalam yen untuk ditanamkan di aset berimbal hasil tinggi di negara lain. Jika strategi ini dibalik massal, bisa terjadi gejolak.

Tapi, menurut Stockbit, dampaknya masih bisa dikelola. Syaratnya, BOJ harus terus menaikkan suku bunga secara bertahap dan disertai dengan komunikasi yang jelas ke pasar.

Kini, semua mata tertuju pada negosiasi gaji musim semi tahun 2026 di Jepang. Hasil dari tawar-menawar upah itu akan menjadi penanda arah yang sangat kuat untuk langkah BOJ selanjutnya. Sementara itu, konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg memprediksi, masih akan ada satu kenaikan suku bunga lagi sekitar 25 bps pada paruh kedua 2026. Proses normalisasi ini jelas akan berjalan perlahan, tapi arahnya sudah tak terbantahkan lagi.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar