Nah, di sinilah poin sejarahnya muncul. Banyak yang langsung teringat Kevin Diks. Tapi, ada beda mendasar. Ke-17 penampilan Diks di Liga Champions terjadi saat ia masih berkewarganegaraan Belanda. Sementara Paes sudah resmi WNI. Jadi, jika nanti ia benar-benar turun, itu akan menjadi catatan pertama untuk Indonesia di ajang elit Eropa itu. Bukan sekadar pemain keturunan, tapi pemain yang secara resmi mewakili tanah air.
Ambisi di Tengah Keterpurukan
Namun begitu, Paes datang di saat yang menantang. Kondisi Ajax di panggung Eropa sedang tidak ideal. Musim 2025-2026 ini, mereka harus pulang lebih awal setelah tereliminasi di fase liga. Posisinya terdampar di peringkat 32, cuma menang dua kali dan kalah enam. Mereka termasuk dari 12 klub yang harus angkat koper lebih cepat.
Padahal, klub berjuluk "De Godenzonen" ini adalah salah satu kolektor trofi terbanyak dengan empat gelar Liga Champions. Kehadiran Paes yang punya 128 caps di MLS diharapkan bisa jadi bagian dari proses kebangkitan. Ambisinya jelas: mengembalikan Ajax ke papan atas Eropa musim depan.
Jadi, perjalanan ini baru akan dimulai. Semua mata kini tertuju pada kiper berpaspor Indonesia itu, menunggu apakah ia benar-benar akan mencetak sejarah baru di ajang yang didambakan setiap pesepakbola.
Artikel Terkait
Presiden Meksiko Turun Tangan, Minta Tiket Tambahan untuk Konser BTS
Eminence Global Pacu Ekspansi, Siapkan Vila Eksklusif Baru di Ciloto
Banjir Landa Tujuh Kecamatan di Bekasi, Air Merangkap Hingga Atap Rumah
Menteri AS Bantah Keras Isu Intervensi untuk Dongkrak Yen