Setelah itu, analisis korelasi dilakukan untuk mengetahui variabel apa yang paling kuat memengaruhi bentuk akhir kue. Hasilnya? Di awal pemanggangan, suhu memegang peran dominan saat kue mulai mengembang. Namun begitu melewati titik kritis tertentu, kadar air justru jadi faktor penentu. Saat air menguap dari adonan, itulah yang memengaruhi ketebalan dan bentuk kue.
ujar Corradini.
Lalu, suhu mana yang terbaik? Ternyata, pada 205 derajat Celsius, kue mencapai puncak pengembangannya lebih lambat, sekitar enam menit, sebelum akhirnya sedikit mengempis di menit-menit akhir. Yang menarik, pada suhu ini kelembapan kue juga terjaga lebih stabil.
Kesimpulannya, menurut Corradini dan tim, suhu sedang 205°C adalah titik yang paling ideal. Suhu ini menciptakan keseimbangan bagus antara struktur dan kelembapan. Alhasil, tekstur kuenya pun pas renyah di luar, tapi tetap lembut di dalam.
Memang, bagi sebagian orang, penelitian seperti ini mungkin terkesan sepele. Tapi tim peneliti punya harapan besar. Mereka ingin temuan ini bisa membantu para pelaku usaha, khususnya yang produksi dalam skala besar. Dengan patokan suhu yang jelas dan terukur, setidaknya risiko gagal panggang bisa diminimalisir. Jadi, bukan cuma teori, tapi bisa langsung dipraktikkan.
Artikel Terkait
BMKG Buka Fakta: Operasi Modifikasi Cuaca Bukan Biang Kerok Banjir
Waspada Ombak 4 Meter, Bibit Siklon Tropis 98S Ancam Perairan Indonesia
Zanotti Cetak Sejarah, Corinthians Hadapi Arsenal di Final Piala Dunia Wanita
Kapolri Sigit Perintahkan Jajarannya Kawal Distribusi Pupuk Demi Swasembada Pangan