Nama itu akhirnya muncul lagi: Elkan Baggott. Setelah sekian lama absen, bek jangkung Ipswich Town itu bersedia kembali membela Timnas Indonesia. Kabar yang sempat terasa mustahil ini tentu mengundang tanya. Apa yang berubah?
Kembalinya Baggott bukan cuma sekadar tambahan satu nama di daftar skuad. Ceritanya lebih panjang dari itu. Ini soal jarak antara pemain diaspora dengan tim nasional, soal pilihan karier di Eropa, dan mungkin, tentang babak baru yang akan ia jalani.
Dulu, di era Shin Tae-yong, Baggott sempat jadi pilar penting. Posturnya yang tinggi, ditambah pengalamannya di Inggris, membuatnya cepat nyambung dengan skema pertahanan Garuda. Tapi hubungan mereka nggak selalu mulus, sih.
Beberapa kali panggilan timnas berakhir dengan ketidakhadirannya. Momen paling berkesan ya jelang playoff Olimpiade Paris 2024 melawan Guinea. Saat itu, Indonesia butuh kekuatan terbaik. Baggott dipanggil, tapi tak datang.
Spekulasi pun bertebaran. Ada yang bilang bentrok jadwal dengan klub, ada juga yang menyebut ini keputusan pribadi agar ia bisa fokus di Inggris. Yang jelas, Indonesia akhirnya gagal ke Paris. Sejak saat itu, namanya perlahan menghilang dari radar timnas.
Masa-masa Patrick Kluivert memegang tim pun tak membawa perubahan. Baggott tetap tak dipanggil. Jaraknya dengan timnas makin terasa.
Barulah di tangan pelatih baru, John Herdman, pintu itu terbuka lagi.
Kepala Badan Tim Nasional (BTN) Sumardji mencoba meluruskan. Katanya, pemanggilan ini bukan drama. Ini murni kebutuhan teknis.
“Tidak ada cerita khusus di balik pemanggilan Elkan. Semua itu sesuai kebutuhan pelatih. John sudah memanggil nama-nama yang memang dibutuhkan, dan salah satunya Elkan Baggott,” ujar Sumardji.
Surat pemanggilan resmi sudah dikirim ke pemain yang pernah dipinjamkan ke Blackpool FC itu. Responsnya positif. Baggott siap datang.
“Surat panggilan sudah kami kirimkan dan Elkan menyatakan siap datang. Saat ini pelatih memang membutuhkan tenaganya,” tambah Sumardji.
Rupanya, bagi Herdman, ini bukan keputusan dadakan. Pelatih asal Kanada itu disebut sudah memantau pemain-pemain Indonesia jauh sebelum ia resmi ditunjuk. Bahkan, beberapa nama sudah ia siapkan dalam presentasinya dulu.
Kembalinya Baggott jelas membawa angin segar untuk lini belakang. Dengan tinggi badan nyaris dua meter dan pengalaman di Eropa, dia punya keunggulan yang jarang dimiliki pemain lokal.
Tapi di balik kabar gembira ini, ada pertanyaan menggelitik. Apakah ini pertanda arah kariernya juga bakal berubah?
Belakangan, tren pemain diaspora main di liga domestik makin kentara. Lihat saja Thom Haye yang ke Persib, atau Jordi Amat yang gabung Persija. Mereka memilih berlabuh di tanah air.
Lantas, apakah Baggott akan menyusul? Untuk sekarang, jawabannya masih mengambang. Fokusnya masih pada timnas. Agenda terdekat adalah FIFA Series 2026, dimana Indonesia akan jumpa Saint Kitts dan Nevis tanggal 27 Maret. Tiga hari kemudian, lawannya bisa Bulgaria atau Kepulauan Solomon.
Di situlah Baggott berpeluang kembali memimpin pertahanan Garuda. Posisi yang dulu ia tinggalkan, dan kini siap ia isi kembali.
Sepak bola memang jarang berjalan lurus. Ada jeda, ada jarak, dan ada momen untuk pulang. Untuk Elkan Baggott, sepertinya babak barunya baru saja dimulai.
Artikel Terkait
Pedrosa Prediksi Duel Bezzecchi vs Marquez di MotoGP 2026, Martin Jadi Kuda Hitam
Bruno Moreira Diuji di Empat Laga Sisa: Kapten Persebaya Harus Buktikan Diri di Tengah Standar Tinggi Bernardo Tavares
Chelsea Patok Harga €70 Juta untuk Nicolas Jackson, Bayern Munich Tak Minat Perpanjang Pinjaman
MilkLife Festival SenengMinton 2026 Digelar di Purwokerto, 480 Siswa SD Antusias Ikuti Lomba Bulu Tangkis