Ada secercah kabar baik buat pengendara di Amerika Serikat. Di tengah harga-harga lain yang masih menggigit, bensin atau yang mereka sebut 'gas' ternyata diprediksi bakal lebih murah tahun ini. Ini jadi salah satu penawar duka di tengah mahalnya kebutuhan pokok.
Platform pemantau BBM, GasBuddy, memproyeksikan harga rata-rata nasional bakal nyentuh angka USD 2,97 per galon sepanjang 2026. Kalau prediksi ini meleset, maka ini akan jadi tahun keempat berturut-turut harga turun. Lebih menarik lagi, ini pertama kalinya sejak 2020 harga tahunan rata-rata bisa di bawah tiga dolar.
Patrick De Haan, Kepala Analis Minyak di GasBuddy, bilang situasinya jauh lebih baik sekarang. "Pasar mulai seimbang kembali setelah pandemi Covid," ujarnya.
Kondisi ini kontras banget dengan situasi 2022 silam. Waktu itu, harga bensin semacam jadi simbol krisis inflasi yang mencekik. Invasi Rusia ke Ukraina bikin harga minyak melambung, sempat sentuh rekor di atas USD 5 per galon. Inflasi AS pun meroket sampai lebih dari 9 persen.
Nah, proyeksi GasBuddy ini sebenarnya disusun sebelum aksi militer mendadak AS di Venezuela dan penangkapan Nicolas Maduro. Tapi menurut De Haan, situasi di Venezuela nggak langsung mengubah perhitungan. Soalnya, butuh waktu lama buat memperbaiki infrastruktur energi negara itu yang sudah rusak parah.
Di sisi lain, harga minyak dunia memang terlihat stabil pasca-intervensi itu. Jadi, prediksi harga bensin yang lebih murah ini bener-bener jadi angin segar. Apalagi kalau lihat biaya hidup lain seperti belanja bulanan, listrik, atau pemanas rumah yang masih terus naik.
Rupanya, ada sepuluh negara bagian yang bakal menikmati harga rata-rata tahunan di bawah USD 2,75 per galon. Mereka adalah Alabama, Arkansas, Kansas, Louisiana, Mississippi, Missouri, Oklahoma, South Carolina, Tennessee, dan Texas.
Meski begitu, harga diprediksi masih akan ada fluktuasi. Puncaknya kemungkinan terjadi sekitar bulan Mei, nyaris mencapai USD 3,12 per galon, seiring naiknya permintaan dan peralihan ke bahan bakar musim panas. Tapi tenang, jelang akhir tahun harganya diprediksi melandai lagi ke sekitar USD 2,83.
Penurunan ini bukan hal baru. Tahun 2025 lalu, harga bensin juga sempat turun, seiring anjloknya harga minyak dunia sekitar 20 persen penurunan tahunan terbesar sejak 2020. Untuk tahun ini, harga minyak AS diproyeksikan rata-rata cuma USD 51 per barel, turun dari USD 65 di 2025 dan USD 77 di 2024.
"Penurunan harga bukan karena permintaan turun, tapi karena pasokan meningkat," jelas De Haan lagi.
Kenaikan pasokan itu sebagian besar dipicu OPEC yang menaikkan produksi di 2025, didesak oleh tekanan dari Trump. Produksi minyak AS sendiri juga tetap kuat, meski kebijakan 'drill, baby, drill' belum juga bikin produksi meledak seperti yang dijanjikan.
Di akhir Desember lalu, produksi minyak AS tercatat 13,83 juta barel per hari hampir sentuh rekor tertinggi sepanjang masa. Tapi hati-hati, harga yang terlalu murah ini mulai bikin sejumlah perusahaan minyak lokal mengurangi kegiatan pengeboran. Akibatnya, produksi minyak AS di 2026 diperkirakan bakal turun sekitar 100 ribu barel per hari.
"Pengendara sebaiknya jangan terlalu berharap harga murah ini bertahan selamanya," kata De Haan memberi peringatan. "Produksi minyak AS bisa melemah dan memberi lebih banyak pangsa pasar ke OPEC."
Peluang Kenaikan Harga
Memang, prediksi ini nggak lepas dari risiko. Ketegangan di Venezuela bisa saja meluas dan memicu gejolak harga energi. Konflik Rusia-Ukraina juga belum berakhir, dengan serangan ke infrastruktur energi Rusia yang terus terjadi.
Belum lagi, Iran sudah memperingatkan kemungkinan serangan ke pasukan AS di Timur Tengah jika Washington ikut campur urusan dalam negeri mereka. Risiko lain ya kalau OPEC tiba-tiba berubah pikiran, memangkas produksi lagi supaya harga nggak terpuruk terlalu dalam.
Tapi untuk saat ini, setidaknya ada satu hal yang bisa diandalkan: harga bensin masih akan jadi pelipur lara di tengah tekanan hidup yang makin berat. Itu prediksinya.
Artikel Terkait
Analis Sucor: Saham Unggulan Tertekan Jauh di Bawah Nilai Wajar
Analis Proyeksikan IHSG Lanjutkan Penguatan, Waspadai Potensi Koreksi
AMOR Cairkan Dividen Interim Tahap II Rp28,6 Miliar, Yield 3,51%
BLUE Konfirmasi Akuisisi 80% Saham oleh Perusahaan Tambang Hong Kong