Laporan kinerja fiskal Jawa Barat hingga akhir 2025 menunjukkan hasil yang menggembirakan. Anggaran daerah ini ternyata masih jadi penopang utama perekonomian lokal, dengan kondisi yang bisa dibilang sehat. Bagaimana rinciannya? Ternyata, pendapatan negara berhasil direalisasikan hingga Rp145,65 triliun. Angka itu mencapai hampir 96 persen dari target yang ditetapkan, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 6,44 persen.
Di sisi lain, belanja negara berada di angka Rp119,22 triliun. Hasilnya, APBN Jawa Barat mencatatkan surplus yang cukup signifikan, yaitu Rp26,43 triliun. Cukup solid, bukan?
Seperti biasa, andalan penerimaan tetap datang dari sektor pajak. Kontribusinya mencapai Rp109,01 triliun, atau 92,47 persen dari target. Dibanding tahun sebelumnya, tumbuh 8,19 persen. Kinerja positif ini tak lepas dari peningkatan kepatuhan wajib pajak dan perbaikan sistem administrasi yang berjalan cukup baik.
Kalau kita lihat lebih detail, kontribusi Kanwil DJP Jawa Barat III cukup mencolok. Penerimaan pajak netonya mencapai Rp28,1 triliun, naik dari posisi tahun 2024 yang sebesar Rp26,6 triliun.
PPh Badan tumbuh 9 persen jadi Rp4,3 triliun. Yang menarik, PPh Orang Pribadi justru melesat signifikan, 34,7 persen, menjadi Rp0,6 triliun. Penerimaan PPN dan PPnBM menyumbang Rp14,8 triliun dengan pertumbuhan 1,5 persen. Meski begitu, ada catatan untuk PBB yang justru mengalami kontraksi sekitar 7 persen.
Selain pajak, sumber penerimaan lain juga tak kalah bagus. Penerimaan dari kepabeanan dan cukai malah melampaui target, tembus Rp28,52 triliun atau 100,7 persen dari yang diharapkan. Sektor cukai mendominasi di sini. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pun perkasa, realisasinya Rp8,12 triliun atau melampaui target hingga 146,64 persen.
Lalu, kemana uangnya dibelanjakan? Fokusnya jelas: pelayanan publik dan pembangunan daerah. Belanja K/L menyerap Rp43,22 triliun, sementara penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) mencapai Rp76,01 triliun. Berbagai program prioritas nasional tetap berjalan.
Program Makan Bergizi Gratis, contohnya, sudah menjangkau lebih dari 11 juta penerima manfaat. Dukungan perumahan lewat FLPP menyentuh sekitar 62 ribu unit. Penyaluran KUR juga masif, Rp28,61 triliun untuk lebih dari 500 ribu debitur.
Di tengah segala ketidakpastian global, perekonomian Jawa Barat ternyata tetap tumbuh solid. Pada triwulan III 2025, ekonominya bertumbuh sekitar 5,2 persen secara tahunan. Inflasi pun relatif terkendali, berada di level 2,63 persen. Kinerja perdagangan bahkan mencatatkan surplus, jadi indikator bagus untuk daya saing daerah.
Pada akhirnya, APBN memang masih memainkan peran sentral. Fungsinya sebagai penjaga stabilitas ekonomi dan pelindung daya beli masyarakat tetap krusial. Dengan pengelolaan yang hati-hati dan responsif, keberlanjutan fiskal dan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat ke depan diharapkan bisa tetap terjaga.
Artikel Terkait
Pengamat Sebut Pembebasan PPN Tiket Pesawat Domestik Bisa Tekan Harga dan Dongkrak Konektivitas Nasional
Koalisi Jaksa Agung AS Buka Penyelidikan Besar-besaran terhadap OpenAI
Pemulangan Jamaah Haji Indonesia 2026 Capai 79.438 Orang, Kemenag Jaga Layanan hingga Kloter Terakhir
Komdigi Pastikan Gangguan Instagram dan Facebook pada 12 Juni Bersifat Global, Buntut Masalah Sistem META