JK Minta Polisi Usut Tuntas Teror Air Keras ke Aktivis KontraS

- Sabtu, 14 Maret 2026 | 21:30 WIB
JK Minta Polisi Usut Tuntas Teror Air Keras ke Aktivis KontraS

JK Prihatin dan Minta Polisi Usut Tuntas Teror Air Keras ke Aktivis KontraS

Di kediamannya di kawasan Brawijaya, Jakarta Selatan, Jusuf Kalla tak bisa menyembunyikan rasa prihatinnya. Sabtu lalu (14/3/2026), Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 itu menyayangkan keras aksi penyiraman air keras yang menimpa Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS. Bagi JK, polisi harus segera turun tangan.

"Tentu kita pertama prihatin dan sayangkan terjadi," ujarnya.

Lalu ia menambahkan, "Dengan harapan polisi betul-betul mengusut."

Pikirannya langsung melayang ke kasus lama. Menurut JK, teror semacam ini bukan kali pertama. Dulu, mantan penyidik KPK Novel Baswedan juga pernah jadi korban kejahatan serupa. Ia menduga kuat ada kaitan antara aksi ini dengan aktivitas korban.

"Setelah KPK dulu, siapa namanya si, Novel Baswedan itu, ini lagi, kena lagi," kata JK sambil menyebut Andrie.

"Berarti ada kelompok atau siapa itu kita tidak tahu."

Ia menekankan, kasus seperti ini harus ditangani dengan kepala dingin. Tujuannya jelas: mencegah spekulasi yang berkembang liar. Kecepatan polisi dalam mengungkap fakta jadi kunci utama.

Namun begitu, JK juga mengingatkan bahwa motifnya bisa beragam. Tidak selalu rumit.

"Jadi perlu kita lihat seperti itu, siapa yang dirugikan. Ada juga, kita tahu ada anak-anak SMA yang hobinya hanya sekadar usil, iseng, untuk mengirim serangan begitu. Kita tidak tahu ini," paparnya.

"Jadi tinggal polisi yang harus aktif untuk melihat itu."

Peristiwa yang menyasar Andrie Yunus sendiri terjadi usai ia melakukan rekaman podcast. Lokasinya di Kantor YLBHI, membahas topik "Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia". Dua orang tak dikenal tiba-tiba menyiramnya dengan air keras.

Akibatnya parah. Andrie mengalami luka bakar serius di sekujur tubuhnya. Tangan kanan dan kirinya, muka, dada, serta bagian mata menjadi sasaran. Dari pemeriksaan medis, korban mengalami luka bakar seluas 24 persen.

Kasus ini tentu mengingatkan kita pada pola yang memprihatinkan. Dan sekarang, semua mata tertuju pada kinerja aparat.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar