Jakarta - Di tengah hiruk-pikuk investigasi perdagangan yang digulirkan Amerika Serikat, pemerintah Indonesia justru bersikap tenang. Pegangan mereka jelas: Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang sudah disepakati dengan AS. Kesepakatan itulah yang diyakini bakal menjadi penuntun utama hubungan dagang kedua negara ke depan.
Lantas, bagaimana dengan investigasi yang digaungkan USTR itu? Menurut pemerintah, ya itu urusan prosedur hukum di sana. Mereka punya mekanismenya sendiri yang harus dijalani.
“Pada prinsipnya ini masalah administrasi hukum di negara mereka, jadi mereka harus mengikuti proses investigasi tersebut,” jelas Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto.
“Namun pegangan kita tetap Agreement on Reciprocal Trade (ART). Proses ini kita lalui saja,” tambahnya dalam Media Gathering Kemenko Perekonomian bersama FORKEM di Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Memang, investigasi soal kelebihan kapasitas manufaktur itu menyasar 16 negara. Indonesia cuma satu di antaranya. Tapi posisi kita agak berbeda. Soalnya, ada ART yang jadi buah dari perundingan alot lebih dari setahun. Itu yang bikin pemerintah percaya diri.
Haryo menegaskan, pemerintah akan kooperatif memberikan data yang diminta. Tapi di sisi lain, mereka yakin banget isu-isu yang diusut AS sebenarnya sudah tercover dalam pembahasan ART. Komunikasi dengan otoritas AS juga terus dijalin untuk membahas langkah selanjutnya.
Di dalam negeri, proses untuk mengimplementasikan ART juga jalan terus. Mulai dari konsultasi dengan DPR sampai persiapan ratifikasi. Semua dijalani sesuai aturan yang berlaku.
“ART ini kesepakatan yang win-win bagi kedua negara,” pungkas Haryo.
“Karena itu kita optimistis kesepakatan yang sudah dibicarakan cukup panjang ini akan tetap berjalan.”
Nuansa yang terasa jelas: ada keyakinan bahwa fondasi yang sudah dibangun lewat ART cukup kuat. Lebih kuat daripada gelombang investigasi yang sifatnya sementara. Pemerintah seperti memilih untuk fokus pada peta besar hubungan dagang, bukan terhanyut oleh setiap riak kecil.
Artikel Terkait
Bupati Lampung Tengah Nonaktif Ardito Wijaya Dipindahkan ke Lapas Lampung Jelang Sidang Perdana
Kanselir Jerman Kecam AS dan Israel karena Meremehkan Kekuatan Iran
Transjakarta Sediakan Shuttle Gratis untuk Penumpang KRL Terdampak Kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur
Lima Tim Kuda Hitam yang Siap Jadi Kejutan di Piala Dunia 2026