Trump Buka Suara Soal Serangan ke Venezuela, Sebut Nama Senjata Misterius
WASHINGTON Dalam sebuah pengakuan mengejutkan, mantan Presiden AS Donald Trump mengklaim militer Amerika menggunakan sebuah senjata rahasia dalam operasi di Venezuela awal Januari lalu. Operasi yang menargetkan penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, itu disebut melibatkan teknologi yang ia namai "discombobulator".
Menurut Trump, alat inilah yang menjadi kunci. "Discombobulator. Saya tidak diperbolehkan untuk membahasnya," katanya kepada The New York Post.
Dia melanjutkan dengan nada penuh keyakinan, "Mereka (Venezuela) tidak pernah berhasil meluncurkan roket. Mereka memiliki roket (buatan) Rusia dan China, dan mereka tidak pernah berhasil meluncurkan satu pun. Kami datang, mereka menekan tombol dan tidak berfungsi. Mereka sudah siap untuk (menyerang) kami."
Dari penjelasannya, senjata itu berperan melumpuhkan sistem pertahanan Venezuela di ibu kota Caracas. Bandara dan kemampuan militer mereka hancur atau tak berdaya.
Namun begitu, operasi ini meninggalkan jejak kelam. Korban jiwa dilaporkan mencapai sekitar 100 orang. Bukan cuma tentara. Puluhan pengawal Maduro yang disebut sebagai tentara bayaran asal Kuba tewas dalam insiden itu. Sayangnya, warga sipil juga jadi korban.
Merespons hal ini, Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino Lopez tak tinggal diam. Dia menyebut aksi AS sebagai penculikan yang pengecut.
"Angkatan bersenjata nasional Bolivarian dengan tegas menolak penculikan pengecut terhadap Nicolas Maduro Moros, penduduk konstitusional Republik Bolivarian Venezuela dan Panglima Tertinggi kami, serta istrinya, Ibu Negara Cilia Flores de Maduro," tegas Lopez.
Dia menggambarkan situasi yang jauh dari gambaran bersih Trump. Menurutnya, serangan itu adalah kejahatan brutal. Pasukan keamanan, personel militer, dan warga sipil yang tak bersalah dibunuh dengan kejam. Bahkan, sejumlah staf kepresidenan berstatus sipil menjadi target.
Klaim Trump soal senjata canggih dan bantahan keras dari Venezuela ini memperlihatkan dua sisi cerita yang bertolak belakang. Satu sisi bicara teknologi mutakhir, sisi lain menceritakan tragedi kemanusiaan.
Artikel Terkait
John Herdman Panggil Tujuh Pemain untuk Seleksi Awal Timnas Indonesia Jelang Piala AFF 2026
Polresta Yogyakarta Tetapkan 13 Tersangka Kasus Penganiayaan Anak di Daycare Little Aresha
Penembakan di White House Correspondents’ Dinner, Pelaku Guru California Diamankan tanpa Korban Luka
Penembakan di Makan Malam Koresponden Gedung Putih, Lokasi yang Sama dengan Percobaan Pembunuhan Reagan 1981