Di tengah karpet salju Davos, Presiden Prabowo Subianto justru membawa pembicaraan yang hangat dan tegas. Dalam forum World Economic Forum (WEF) kemarin, Kamis, Prabowo tak sungkan menyoroti sebuah fenomena ekonomi yang ia beri label cukup tajam: "Greedynomics". Istilah itu ia lontarkan di hadapan para pemimpin dan pelaku bisnis global yang hadir.
Dia bercerita, tantangan besar langsung menyambut di awal-awal pemerintahannya. Berbagai praktik ilegal, yang tak lain adalah korupsi sistematis, ternyata menggerogoti banyak sektor. Mulai dari energi, sampai ke perkebunan dan pertambangan. "Dalam minggu-minggu pertama saya di pemerintahan," ujar Prabowo, suaranya terdengar jelas dalam forum itu, "kami mengungkap penyalahgunaan besar-besaran dalam tata kelola bahan bakar dan minyak mentah."
Nah, soal perkebunan dan tambang ini ceritanya makin seru. Menurut Prabowo, pemerintah sampai harus mengambil alih paksa lahan seluas 4 juta hektar. Lahan-lahan itu sebelumnya dikuasai oleh pelaku usaha secara ilegal. Bisa dibayangkan, luasnya hampir setara dengan beberapa negara kecil di Eropa.
Praktik semacam ini, menurut Prabowo, nyaris terjadi di semua lini. Dia menyebutnya sebagai "greedynomics", sebuah ekonomi yang digerakkan oleh keserakahan. Keuntungan pribadi atau kelompok dikejar mati-matian, meski harus mengorbankan hukum dan merusak lingkungan. "Mungkin di banyak negara Anda, pernah ada periode seperti ini," katanya, mencoba menarik paralel, "periode para robber baron."
Artikel Terkait
LPS Angkat Bicara Soal Pencalonan Tommy Djiwandono di BI
Menyelami Keheningan: Etika dan Pesona di Balik Kemegahan Candi Borobudur
Prabowo di Davos: Indonesia Jadi Titik Terang Ekonomi Global
OJK Dorong Bank Kecil Perkuat Diri, Konsolidasi Jadi Opsi