Prabowo di Davos: Saat Dunia Rapuh, Indonesia Jadi Titik Terang

- Kamis, 22 Januari 2026 | 21:15 WIB
Prabowo di Davos: Saat Dunia Rapuh, Indonesia Jadi Titik Terang

DAVOS Suasana di Davos kali ini terasa berbeda. Di tengah hawa dingin Pegunungan Alpen, para pemimpin dunia berkumpul untuk World Economic Forum 2026, dengan beban berat di pundak mereka. Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, yang menjadi salah satu pembicara kunci pada Kamis (22/1/2026), langsung menyentuh hal itu. Dunia, katanya, sedang berada di titik nadir.

“Kita berkumpul di sini di Davos di tengah masa ketidakpastian yang besar,” ujarnya, suaranya lantang mengisi ruangan.

“Masa di mana perang terus berkecamuk. Masa di mana kepercayaan antarnegara, antarinstitusi, dan antarmanusia sedang rapuh.”

Pidatonya jelas: tanpa perdamaian, mustahil ada kemakmuran. Menurut Prabowo, sejarah sudah membuktikannya. Tidak ada satu negara pun yang bisa membangun ekonomi di atas puing-puing konflik. Stabilitas keamanan global, tegasnya, adalah harga mati. “Perdamaian dan stabilitas adalah aset kita yang paling berharga,” katanya. Itu adalah prasyarat mutlak untuk pertumbuhan.

Namun begitu, di balik gambaran suram geopolitik global itu, Prabowo membawa angin segar. Ia bicara tentang Indonesia dengan nada yang jauh lebih optimis. Ia mengutip penilaian Dana Moneter Internasional (IMF) yang menyebut Indonesia sebagai ‘titik terang global’. Sebuah pujian yang datang di saat ekonomi dunia sedang dilanda pengetatan keuangan, ketegangan perdagangan, dan gejolak politik yang tak kunjung reda.

“Dan saya yakin bahwa tahun ini pertumbuhan kita akan jauh lebih tinggi lagi,” tambahnya penuh keyakinan.

Keyakinannya itu punya dasar. Selama sepuluh tahun terakhir, ekonomi Indonesia konsisten tumbuh di atas 5 persen. Inflasi terjaga rendah, sekitar 2 persen. Sementara defisit anggaran pemerintah berhasil ditekan di bawah 3 persen dari PDB. Bagi Prabowo, pengakuan dari lembaga internasional seperti IMF bukanlah sekadar pujian kosong. Itu dibangun dari bukti nyata dan kebijakan yang terukur.

Di sisi lain, ia juga menegaskan kredibilitas Indonesia di mata dunia. Soal utang, misalnya. “Dalam sejarah kami, Indonesia tidak pernah sekalipun gagal membayar utang. Tidak satu kali pun,” tegasnya. Setiap rezim baru, lanjutnya, selalu melanjutkan tanggung jawab membayar utang dari pemerintahan sebelumnya. Itu adalah komitmen yang tak pernah putus.

Puncak paparannya adalah perkenalan “Danantera Indonesia”. Sovereign Wealth Fund atau dana kekayaan kedaulatan yang baru diluncurkan Februari tahun lalu itu sudah mengelola aset senilai satu triliun dolar AS. Nama Danantara, yang berarti ‘energi untuk menggerakkan masa depan Indonesia’, diharapkan menjadi motor baru.

“Dengan Danantara, saya dapat berdiri di sini di hadapan Anda sebagai mitra yang setara,” kata Prabowo.

Pesan penutupnya jelas: Indonesia bukan lagi sekadar negara yang damai dan stabil. Kini, ia semakin menjadi negeri yang penuh peluang.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar