Pakistan dan Thailand Ambil Langkah Darurat Hemat Energi Imbas Gejolak Timur Tengah

- Kamis, 12 Maret 2026 | 03:05 WIB
Pakistan dan Thailand Ambil Langkah Darurat Hemat Energi Imbas Gejolak Timur Tengah

Dampak perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel ternyata tak cuma soal geopolitik. Perlahan-lahan, gelombang kejutnya mulai terasa di perekonomian negara-negara lain. Beberapa di antaranya bahkan sudah mulai 'mengetatkan ikat pinggang' untuk bertahan, berusaha menghindari krisis yang lebih dalam.

Kalau dilihat, mayoritas negara yang mengambil langkah cepat ini berasal dari kawasan Asia. Kebijakannya beragam, mulai dari hal-hal sederhana seperti mengatur suhu AC hingga langkah drastis menutup sekolah. Semua demi menghemat energi dan anggaran.

Pakistan Ambil Langkah Ekstrem: Sekolah Tutup Dua Minggu

Pekan lalu, tepatnya Senin (9/3), Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan serangkaian kebijakan penghematan yang cukup keras. Mulai pekan depan, seluruh sekolah di negara itu akan diliburkan selama dua minggu. Bayangkan, sekitar 40 juta siswa terdampak. Untuk perguruan tinggi, perkuliahan dialihkan sepenuhnya ke daring.

Tak cuma itu. Kantor pemerintah kecuali bank hanya akan beroperasi empat hari dalam seminggu. Separuh lebih pegawai negeri diharuskan kerja dari rumah. Bahan bakar untuk kendaraan dinas dipotong separuh selama dua bulan, kecuali untuk ambulans dan bus umum. Bahkan, pembelian kendaraan dinas baru ditunda sampai Juni 2026.

Di level pejabat, para menteri dan penasihat pemerintah sepakat melepas gaji dan tunjangan mereka. Anggota legislatif, baik di tingkat federal maupun daerah, juga diharapkan memotong gaji secara sukarela sebesar 25%. Ada juga larangan unik: pemerintah melaksanakan pesta buka puasa bersama selama Ramadan.

Latar belakangnya jelas. Pakistan baru saja menaikkan harga bensin dan solar sebesar 55 rupee per liter kenaikan terbesar sepanjang sejarah mereka. Karena hampir seluruh kebutuhan energinya bergantung pada impor, inflasi di Pakistan jadi sangat rentan dengan gejolak harga minyak global.

"Untuk menstabilkan ekonomi, kami telah mengambil keputusan-keputusan sulit," ujar Sharif dalam pidato televisi yang disiarkan ke seluruh negeri.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar