Jerigen Air yang Berubah Jadi Hukuman Mati di Mata Drone Amerika

- Minggu, 04 Januari 2026 | 18:00 WIB
Jerigen Air yang Berubah Jadi Hukuman Mati di Mata Drone Amerika

Bayangkan jika Amerika mencoba operasi ala Venezuela di Afghanistan. Bisa-bisa pasukan elit Delta Force dan helikopter tempur mereka berakhir jadi sate bagi para pejuang Taliban.

Ini bukan sekadar perkiraan ngawang. Ambil contoh saat mereka menggerebek Tora Bora untuk memburu Usamah bin Laden. Situasi di lapangan ternyata jauh dari gambaran film aksi. Delta Force kewalahan menghadapi ratusan militan yang bersembunyi di celah-celah gunung. Dukungan pesawat pembom siluman pun rasanya tak cukup.

Yang terjadi kemudian? Mereka harus bolak-balik membawa koper berisi jutaan dolar. Uang itu jadi 'sajen' untuk Koalisi Aliansi Utara agar mau membantu. Sungguh ironis.

Di sisi lain, perang jalanan justru lebih mematikan dan bikin frustasi. Setiap hari, Toyota Corolla tua milik Taliban yang mengangkut jerigen berisi bahan peledak cair 'bersilaturahmi' dengan konvoi Humvee Amerika dan kendaraan lapis baja lainnya. Serangan-serangan sporadis itu efektif sekali.

Trauma yang ditinggalkan begitu dalam. Sampai-sampai, patroli tentara AS langsung menghindar dan menjauh ketika melihat orang membawa jerigen di pasar. Jerigen, benda sehari-hari yang jadi simbol ketakutan.

Ketakutan itu berbuah tragedi yang memilukan. Seorang warga Afghanistan yang bekerja untuk sebuah lembaga kemanusiaan AS, tewas seketika bersama tujuh keponakannya yang masih kecil. Mereka menjadi korban rudal dari drone Amerika.


Halaman:

Komentar