Di ruang rapat Komisi VII DPR RI, Kamis lalu (22/1/2026), Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membeberkan angka-angka yang cukup mencengangkan soal energi nasional. Sepanjang tahun 2025, pemanfaatan batu bara kita nyaris menembus angka 800 juta ton, tepatnya 790 juta ton. Dan ini menarik: mayoritas besar, 65 persen atau setara 514 juta ton, justru dikirim ke luar negeri.
"Pemanfaatan batu bara selama 2025 kurang lebih hampir 800 juta ton, itu 65 persen ekspor, domestiknya 35 persen," ujar Bahlil dalam rapat kerja itu.
Nah, untuk konsumsi dalam negeri sendiri, angkanya sekitar 254 juta ton atau 32 persen dari total. Sisa sekitar 22 juta ton masuk ke dalam stok. Di dalam negeri, batu bara itu tentu saja jadi andalan untuk menggerakkan pembangkit listrik. Tapi bukan cuma itu, sektor non-kelistrikan dan program hilirisasi seperti industri dan pupuk juga menyerap komoditas hitam ini.
Lalu bagaimana dengan minyak? Lifting minyak bumi rata-rata mencapai 605,3 ribu barel per hari. Angka ini sedikit di atas target APBN 2025 yang 605 ribu barel. Meski begitu, perjalanannya tak mulus. Produksi sempat anjlok di bulan Oktober, cuma 567 ribu barel per hari. Tapi ada angin segar di akhir tahun, Desember mencatatkan lonjakan produksi hingga 652,9 ribu barel per hari. Setidaknya, trennya naik.
Sementara itu, cerita gas bumi agak berbeda. Rata-rata lifting gas sepanjang tahun berada di angka 951,8 ribu barel setara minyak per hari. Memang stabil, berkisar antara 913 hingga 978 ribu. Namun sayang, capaian ini masih di bawah target APBN yang ditetapkan sebesar 1.005 ribu barel. Ini jelas menunjukkan tantangan produksi yang belum tuntas, entah dari sisi lapangan atau tekanan permintaan global yang berubah-ubah.
Kalau dilihat pemanfaatannya, total gas yang digunakan mencapai 5.600 BBTUD. Mayoritas, 69 persen, diserap untuk kebutuhan dalam negeri. Ekspornya sendiri cuma 31 persen.
"Pemanfaatan gas bumi kita, itu 31 persen kita ekspor, karena mereka sebelum POD sudah kontrak. Sementara 69 persen untuk konsumsi dalam negeri. Kemudian dari 69 persen itu sekitar 37 persen sampai 38 persen untuk hilirisasi," jelas Bahlil.
Dari porsi domestik tadi, sektor hilirisasi industri menyerap bagian terbesar, sekitar 37 persen. Sisa 32 persen dipakai untuk berbagai kebutuhan lain seperti BBG, gas rumah tangga, hingga pembangkit listrik dan LNG. Jadi, meski ekspor batu bara masih dominan, di sisi lain pemanfaatan domestik terutama untuk gas tampaknya mulai diarahkan untuk menggerakkan industri dalam negeri. Sebuah langkah yang patut dicermati perkembangannya ke depan.
Artikel Terkait
Okupansi Whoosh dan LRT Jabodebek Melonjak Usai Kecelakaan Maut KRL di Bekasi
Asisten Masinis Curiga Sinyal Eror Sesaat Sebelum KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Bekasi, 15 Tewas
Sri Mulyani Berduka atas Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek, Sehari Sebelumnya Ia Naik Rute yang Sama
Jasa Raharja Pastikan Santunan Cair untuk Seluruh Korban Kecelakaan Stasiun Bekasi Timur