Harga Beras Dunia Anjlok, Pengaruh Swasembada Indonesia Mengguncang Pasar

- Kamis, 22 Januari 2026 | 04:15 WIB
Harga Beras Dunia Anjlok, Pengaruh Swasembada Indonesia Mengguncang Pasar

Harga beras dunia anjlok. Dari level sekitar 660 dolar AS per ton, harganya merosot tajam ke angka 368 dolar. Itu artinya penurunan hampir setengahnya, tepatnya 44 persen. Nah, apa penyebabnya? Ternyata, langkah Indonesia menghentikan impor beras punya pengaruh signifikan terhadap pasar global. Capaian swasembada kita tak cuma memperkuat ketahanan nasional, tapi juga menggetarkan dinamika harga internasional.

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan bahwa prestasi ini diakui dunia. Bahkan, FAO atau Organisasi Pangan dan Pertanian PBB dua kali memberi apresiasi dalam dua tahun terakhir. Yang menarik, sejumlah negara sampai merasa perlu datang langsung ke sini untuk belajar.

"Yang menarik adalah negara maju pertama kali menginjakkan kakinya di Indonesia. Menteri pertaniannya dari Jepang, datang dari Chile, Kanada, Belarus. Ini negara-negara yang tidak pernah datang ke Indonesia. Juga ada Australia, Rusia. Datang dengan pertanyaan apa yang dilakukan Indonesia (sehingga bisa) melompat (menjadi) nomor 2 dunia," kata Amran dalam keterangan pers Rabu (21/1/2025).

Pernyataan Amran itu merujuk pada laporan Food Outlook Juni 2025 dari FAO. Dalam laporan itu, Indonesia disebut sebagai negara dengan peningkatan produksi beras terbesar kedua di dunia dalam dua tahun terakhir. Posisi puncak dipegang Brasil dengan kenaikan 14,7 persen, sementara Indonesia mencatat kenaikan 4,5 persen.

Di sisi lain, Amran tak lupa memberi pujian pada para bupati di seluruh Indonesia. Menurutnya, keberhasilan ini adalah buah dari kerja keras kepala daerah dalam mengawal produksi dan distribusi pangan di wilayah masing-masing.

"Para Bupati ini mendapat amal jariyah. Karena bapak, harga pangan dunia dari USD660 turun jadi USD368 per ton. Turun 44 persen. Itulah buah tangan bupati se-Indonesia,” tutur Amran.

Angkanya memang mencengangkan. Produksi beras Indonesia pada 2025 diproyeksikan mencapai 34,71 juta ton. Jumlah itu jauh melampaui kebutuhan konsumsi dalam negeri yang ‘hanya’ 31,19 juta ton, atau mencapai 111,2 persen dari kebutuhan. Artinya, kita surplus.

Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi yang sangat strategis. Produksi beras nasional ada di level tertinggi sepanjang sejarah. Stok di Perum Bulog juga disebut yang terbesar sejak lembaga itu berdiri lebih dari setengah abad lalu, tepatnya tahun 1969. Intinya, ketergantungan pada impor beras sudah bisa ditinggalkan.

“Indonesia tidak impor lagi. Ini kebanggaan kita semua,” katanya.

Lebih jauh, Amran menegaskan satu hal penting. Swasembada pangan bukan sekadar soal angka produksi. Itu adalah fondasi kedaulatan bangsa. Memperhatikan sektor pangan sama artinya dengan menjaga kehidupan ratusan juta orang yang bergantung padanya.

“Kalau dia memperhatikan sektor pertanian, berarti memperhatikan umat Indonesia,” pungkas Amran.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar