Perry Warjiyo Siapkan Senjata Berat BI Hadapi Gempuran Rupiah ke Rp17.000

- Rabu, 21 Januari 2026 | 16:15 WIB
Perry Warjiyo Siapkan Senjata Berat BI Hadapi Gempuran Rupiah ke Rp17.000

Nilai tukar rupiah yang terus merosot dan hampir menembus angka Rp17.000 per dolar AS tentu bikin was-was. Menanggapi hal ini, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pun buka suara. Dalam sebuah konferensi pers Rabu (21/1/2026) lalu, ia mengurai sejumlah faktor, baik dari luar maupun dalam negeri, yang mendorong pelemahan ini.

Dari sisi global, situasinya memang rumit. Perry menyoroti gejolak geopolitik yang belum reda. Belum lagi, kebijakan tarif resiprokal yang digaungkan Presiden AS Donald Trump turut menciptakan ketidakpastian. Imbasnya, terjadi fenomena menarik: aliran modal besar-besaran keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, dan lari ke tempat yang dianggap lebih aman seperti negara maju.

"Data hingga 19 Januari 2026 menunjukkan, terjadi net outflow sebesar USD 1,6 miliar," ungkap Perry dalam paparannya.

Di sisi lain, faktor domestik juga punya andil. Sebagai negara berkembang, Indonesia tak bisa menghindar dari gelombang perpindahan modal asing tadi. Namun begitu, ada hal lain yang diam-diam mempengaruhi sentimen pasar.

Persepsi terhadap kondisi fiskal, misalnya. Isu pencalonan Deputi Gubernur BI yang baru juga disebut-sebut turut memicu kehati-hatian pelaku pasar. Kombinasi faktor-faktor inilah yang membuat rupiah tertekan.

Meski demikian, Perry bersikap tegas. BI sama sekali tidak akan tinggal diam. Bank sentral siap turun tangan secara agresif untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Kabar baiknya, cadangan devisa kita dinilai masih cukup kuat untuk mendukung langkah intervensi tersebut.

"Kami tegaskan, Bank Indonesia tidak segan-segan melakukan intervensi dalam jumlah besar, baik melalui instrumen non-deliverable forward (NDF) di luar negeri, domestic NDF (DNDF), maupun di pasar spot domestik," tegas Perry.

Intinya, semua langkah stabilisasi itu ditujukan untuk satu hal: meredam gejolak dan mengarahkan rupiah agar kembali menguat. Perry meyakini, fundamental ekonomi nasional kita sebenarnya masih solid, dan ini akan jadi penopang.

Ia juga menambahkan, cadangan devisa yang terkumpul di masa lalu saat arus modal masuk deras sekarang menjadi tameng. Cadangan itulah yang akan digunakan untuk menahan tekanan di pasar keuangan.

Dengan berbagai senjata yang dimiliki, Perry tampak optimis. Ia yakin badai ini akan bisa dilewati.

"Kami meyakini rupiah akan stabil dan bahkan cenderung menguat," ujarnya menutup pernyataan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar