Waspada! Kaleng Gembung dan Penyok Bisa Jadi Sinyal Bahaya Makanan Kaleng

- Selasa, 20 Januari 2026 | 10:24 WIB
Waspada! Kaleng Gembung dan Penyok Bisa Jadi Sinyal Bahaya Makanan Kaleng

Makanan kaleng memang penyelamat di saat malas masak. Praktis banget, tinggal buka, panaskan, dan jadi. Tapi hati-hati, nggak semua kaleng yang berjejer rapi di rak supermarket itu benar-benar aman.

Mulai dari sarden, kornet, sampai buah dan sup, pilihannya banyak. Namun, sebelum masuk keranjang belanja, ada baiknya kita cermati dulu kondisi fisik kemasannya. Sekilas sih terlihat awet dan tahan lama, tapi penampilan bisa menipu.

Prof Eko Hari Purnomo, Guru Besar dari IPB University, tegas menyatakan hal ini. Menurut beliau, makanan kaleng dengan kemasan yang rusak sama sekali tidak layak santap. Risikonya? Gangguan kesehatan yang serius.

"Makanan kaleng adalah bahan pangan yang diawetkan dengan cara dimasukkan ke dalam wadah kaleng kedap udara, lalu melalui proses pemanasan atau sterilisasi, sehingga mikroba penyebab pembusukan mati," jelasnya.

Nah, kunci keamanannya ada dua. Pertama, proses pemanasan yang tepat sejak awal. Kedua, dan ini yang sering kita abaikan, kemasannya harus benar-benar utuh. Kalau kemasan bocor, ya percuma saja proses sterilisasi awalnya. Udara dan bakteri bisa masuk lagi dan merusak isinya.

Lalu, gimana cara tahu kalengnya bermasalah? Tanda yang paling gampang dikenali adalah kaleng yang menggembung.

"Yang paling mudah adalah kalengnya kembung. Itu mengindikasikan ada peluang bahwa mikroba tumbuh di dalam kaleng dan menghasilkan gas," kata Prof. Eko.

Selain gembung, waspadai juga kaleng yang penyok parah atau berkarat. Menurut profesor itu, penyok dan karat bukan cuma soal estetika. Itu bisa jadi awal mula kebocoran.

"Kalau kemasannya sudah mengalami kecacatan, begitu penyok ataupun berkarat, maka sebenarnya itu berpotensi untuk mengakibatkan kaleng ini pada akhirnya bocor," ujarnya.

Begitu bocor, tamatlah riwayatnya. Sterilitas hilang, mikroba masuk, dan makanan pun jadi busuk. Kalau sudah dibuka, ciri-ciri kerusakan biasanya lebih jelas: teksturnya jadi aneh, berlendir, baunya tidak sedap, atau warnanya berubah. "Kalau menemukan kondisi seperti itu, sebaiknya jangan dikonsumsi," tegas Prof Eko.

Di sisi lain, sebagai langkah pencegahan, dia mengingatkan untuk selalu cek izin edar dari Badan POM. Cari tulisan MD untuk produk lokal atau ML untuk produk impor. Itu jadi penanda bahwa produknya sudah diverifikasi keamanannya.

"Dengan kata lain, produk tersebut sudah memenuhi peraturan tentang keamanan pangan," jelasnya.

Intinya sih, jangan cuma tergiur kemasan yang menarik atau harga yang murah. Jadi konsumen yang cerdas dimulai dari hal sederhana: meluangkan waktu beberapa detik untuk memeriksa kondisi kaleng sebelum membelinya. Lebih baik mencegah, bukan?

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar