Nilai tukar rupiah kembali bergerak di zona merah, ditutup pada Rp17.181 per dolar AS di perdagangan Rabu kemarin. Tekanan terhadap mata uang domestik tampaknya belum sepenuhnya reda. Menanggapi hal ini, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan kesiapannya untuk bertindak lebih keras.
Bank sentral, kata Perry, bakal memperkuat intervensinya di pasar valuta asing. Tujuannya jelas: menahan laju pelemahan rupiah.
"Upaya ini menjadi bagian dari strategi terpadu BI dalam meredam tekanan eksternal terhadap rupiah,"
ujarnya dalam Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (22/4/2026). Pernyataan itu sekaligus menegaskan sikap waspada otoritas moneter.
Langkah intervensi itu rencananya akan dijalankan secara menyeluruh. BI tak hanya akan aktif di pasar dalam negeri melalui transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF), tapi juga mengawasi dengan ketat pergerakan di pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri. Intinya, mereka akan berjaga di semua lini.
Namun begitu, intervensi di pasar valas bukan satu-satunya senjata. BI juga berupaya memperkuat struktur suku bunga instrumen moneternya. Strategi ini diharapkan bisa bikin aset finansial dalam negeri lebih menarik di mata investor asing. Kalau berhasil, aliran modal masuk bisa terdorong dan akhirnya ikut menstabilkan pasar keuangan kita.
Di sisi lain, sejumlah penyesuaian kebijakan transaksi valas juga digulirkan. BI misalnya menaikkan batas tunai untuk pembelian valas dengan rupiah. Batas transaksi jual untuk DNDF dan kontrak forward juga dinaikkan, begitu pula threshold untuk transaksi swap. Semua aturan baru ini sudah berlaku sejak awal April 2026.
Dengan serangkaian langkah tadi, pergerakan rupiah sejauh ini relatif masih bisa dikendalikan. Pada 21 April lalu, misalnya, rupiah tercatat di level Rp17.140 per dolar AS. Memang ada pelemahan sekitar 0,87 persen dibanding posisi akhir Maret, tapi gejolaknya tidak ekstrem.
Ke depan, optimisme tetap dijaga. BI meyakini nilai tukar rupiah punya potensi untuk stabil, bahkan menguat.
"Optimisme ini ditopang oleh konsistensi kebijakan bank sentral, imbal hasil aset keuangan domestik yang kompetitif, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap solid di tengah dinamika global,"
tandas Perry Warjiyo. Sentimen positif itu mereka harapkan bisa menjadi penangkal bagi gejolak eksternal yang masih mungkin terjadi.
Artikel Terkait
Kemenperin Khawatir Aturan Pajak Baru Bisa Tekan Penjualan Mobil Listrik
Laporan JP Morgan: Indonesia Peringkat Kedua Ketahanan Energi Global
Delapan Mantan Pejabat Kemnaker Divonis Penjara, Haryanto Dihukum 7,5 Tahun
Distribusi Kartu Nusuk di Indonesia Diharapkan Cegah Keluarga Jamaah Haji Terpisah