Parlemen Jepang akan segera dibubarkan. Kabar ini datang langsung dari Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang memutuskan untuk membubarkan badan legislatif itu pada Jumat mendatang, tepatnya tanggal 23 Januari 2025. Tujuannya jelas: menggelar pemilihan umum lebih cepat dari jadwal.
Kalau rencana ini berjalan, pemungutan suara bakal digelar bulan depan. Itu artinya, pemilu datang sekitar dua setengah tahun lebih awal dari yang seharusnya. Langkah berani ini, tentu saja, punya alasan politik yang kuat.
Takaichi, yang mencatatkan namanya sebagai perdana menteri wanita pertama Jepang pada Oktober lalu, sedang mencari mandat baru. Dia ingin dukungan publik untuk program-program andalannya. Dua isu yang terus didorongnya adalah peningkatan belanja pemerintah dan sebuah strategi pertahanan yang baru. Dengan membubarkan parlemen sekarang, dia berharap bisa mengamankan lebih banyak kursi untuk partainya.
Namun begitu, jalan menuju sana tidak mulus. Partai Liberal Demokratik (LDP) yang dipimpinnya, gagal meraih posisi mayoritas di pemilu terakhir. Akibatnya, selama ini Takaichi harus merangkul dan berkompromi dengan partai lain hanya untuk meloloskan kebijakannya. Situasi itu jelas merepotkan.
Artikel Terkait
Izin Tambang dan Alih Fungsi Hutan Diduga Picu Banjir Besar di Sumatera
Lahan Eks HGU Siap Dijadikan Huntap Korban Banjir Sumatra
Purbaya Anggap Pertukaran Thomas Djiwandono ke BI Buka Peluang Baru
Bupati Pati Diamankan KPK dalam OTT Senyap di Jawa Tengah