Data terbaru dari Kementerian Perindustrian menunjukkan geliat yang cukup menggembirakan. Per pertengahan Januari 2026, tercatat ada 1.236 perusahaan industri yang sedang dalam tahap pembangunan sepanjang 2025. Nah, perusahaan-perusahaan inilah yang diproyeksikan mulai menggelindingkan produksi pertamanya di tahun 2026.
Dampaknya? Tidak main-main. Rencana produksi massal itu diperkirakan bakal menyerap tenaga kerja hingga 218.892 orang. Di balik angka itu, ada nilai investasi yang fantastis: sektor industri pengolahan nonmigas menyuntikkan dana Rp551,88 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp444,25 triliun dianggarkan khusus untuk investasi di luar tanah dan bangunan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan pentingnya momentum ini. Dalam keterangan tertulisnya, Minggu (18/1/2026), ia menyatakan,
"Kapasitas produksi baru yang mulai beroperasi pada 2026 menjadi faktor penting. Fungsinya ganda: menjaga pasokan industri, memperkuat struktur manufaktur kita, sekaligus membuka lapangan kerja baru yang sangat dibutuhkan."
Lantas, dari mana permintaan untuk menyerap hasil produksi ini? Menurut Agus, pertumbuhan manufaktur nasional tahun depan masih akan sangat mengandalkan pasar dalam negeri, yang kontribusinya mencapai sekitar 80 persen. Sisanya, sekitar 20 persen, disokong oleh ekspor.
Untuk mengerek pasar domestik, Kemenperin punya beberapa jurus. Mereka akan fokus pada penguatan kebijakan substitusi impor dan meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Belanja pemerintah dan BUMN untuk produk lokal juga akan dioptimalkan. Tak ketinggalan, Industri Kecil dan Menengah (IKM) akan diperkuat agar bisa terintegrasi dalam rantai pasok nasional.
"Prinsipnya, kami memastikan produk industri dalam negeri menjadi tuan rumah di negeri sendiri," tegas Agus.
"Penguatan pasar domestik inilah yang akan menjadi jangkar utama pertumbuhan manufaktur ke depan."
Beberapa sektor diprediksi bakal jadi primadona. Industri Logam Dasar, contohnya, diperkirakan tumbuh pesat didorong oleh proyek infrastruktur yang berkelanjutan dan geliat hilirisasi. Sementara itu, Industri Makanan dan Minuman tetap akan menjadi penyumbang PDB terbesar sifatnya yang jadi kebutuhan pokok dan pasar yang sangat besar menjadi alasannya.
Artikel Terkait
Cinta Tak Tergenang Banjir: Pengantin Digendong Menuju Pelaminan
Musk Tuntut OpenAI dan Microsoft Rp2.000 Triliun, Klaim Dukung Saat Masih Seumur Jagung
Puncak Arus Balik Libur Isra Mikraj Diprediksi Capai 197 Ribu Kendaraan
Pendaftaran SIPSS Polri 2026 Dibuka, Cuma Sampai 22 Januari