Jakarta, Kamis malam lalu (26/02/2026), suasana di BRILiaN Club terasa hangat. Bukan cuma karena buka puasa bersama, tapi juga karena pertemuan strategis yang digelar di sana. PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) mengundang puluhan Pemimpin Redaksi media nasional. Intinya sederhana: dalam gelombang informasi yang kadang sulit dibedakan mana yang benar dan mana yang keliru, kolaborasi antara dunia perbankan dan jurnalisme dinilai kian krusial.
Acara bertajuk “Buka Puasa Bersama Pemimpin Redaksi” itu dihadiri langsung oleh Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, beserta Wakil Direktur Utama Viviana Dyah Ayu R.K dan jajaran direksi lainnya. Mereka duduk satu meja, berbincang santai namun serius dengan para pemimpin media.
Hery Gunardi membuka diskusi dengan memaparkan sejumlah isu. Dari prospek ekonomi nasional hingga tantangan riil di lanskap perbankan. Ia juga tak sungkan berbagi soal kinerja Perseroan hingga akhir Triwulan IV 2025. Menurutnya, forum ini lebih dari sekadar silaturahmi. Ini adalah ruang untuk bertukar perspektif dan membangun komunikasi yang lebih terbuka.
“Momentum Ramadan ini mengingatkan kita, kolaborasi yang dilandasi niat baik dan saling menghormati akan memperkuat keberlanjutan bersama,” ucap Hery.
Ia menambahkan, sebagai institusi yang hidup dari kepercayaan publik, BRI menjunjung tinggi transparansi. Nilai itu, katanya, sejalan dengan peran media sebagai penjaga arus informasi yang akurat.
Di sisi lain, komitmen itu tidak hanya diucapkan. BRI secara konkret menyalurkan dukungan dana sebesar Rp250 juta kepada Yayasan Forum Pemred. Dana itu ditujukan khusus untuk Program Jurnalisme Berkualitas.
Sekretaris Jenderal Forum Pemimpin Redaksi, Irfan Djunaidi, menyambut baik langkah ini. Dalam sambutannya, ia mengakui betapa ruang informasi saat ini sangat berisik. Masyarakat kerap bingung membedakan mana fakta dan mana yang bukan.
“Situasi yang dihadapi media saat ini tidaklah mudah. Dukungan seperti ini sangat berarti, karena jurnalisme berkualitas kini menyangkut ketahanan ekonomi dan kedaulatan informasi bangsa,” tutur Irfan.
Sambil menikmati hidangan buka puasa, BRI pun membeberkan data kinerjanya. Hingga akhir 2025, total aset mereka tumbuh 7,2% menjadi Rp2.135 triliun. Dana pihak ketiga naik 7,4%, sementara penyaluran kredit melesat 12,3% terutama ke segmen UMKM. Semua angka itu bermuara pada laba bersih yang mencapai Rp57,132 triliun.
Namun begitu, Hery menegaskan bahwa kerja BRI bukan cuma soal angka. Komitmen mereka pada ekonomi kerakyatan diwujudkan lewat program pemberdayaan. Misalnya, dengan membina lebih dari 5 ribu Desa BRILiaN dan memfasilitasi 14,9 juta pelaku UMKM lewat platform LinkUMKM.
“Dari kebersamaan ini, saya yakin satu hal: kepercayaan adalah fondasi utama. Dan peran media sangat strategis untuk membangunnya,” pungkas Hery menutup diskusi.
Pertemuan itu akhirnya berakhir, tapi pesannya jelas. Di tengah banjir informasi dan disrupsi digital, sinergi antara lembaga keuangan dan insan media bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan. Untuk menjaga stabilitas, dan tentu saja, kepercayaan.
Artikel Terkait
Warga dan TNI Mulai Bangun Jembatan Gantung di Klaten Atas Bantuan Presiden
BMKG Perpanjang Peringatan Gelombang Tinggi hingga 4 Meter hingga 22 April
AS Ancam Target Infrastruktur Iran, Negosiasi Terancam Gagal
Menteri Energi AS Prediksi Harga Bensin Sudah Capai Puncak, Penurunan Diperkirakan Segera