“Menurut saya, platform ini sangat membantu dalam memetakan posisi serta perkembangan usaha. Saya sering memanfaatkan fitur self-assessment untuk mengetahui sejauh mana skala bisnis meningkat dari tahun ke tahun,” jelas Aisyah.
“Fitur tersebut juga membantu saya mengenali potensi dan kekurangan yang perlu dibenahi, seperti kebutuhan sertifikasi halal dan aspek legalitas lainnya,” sambungnya.
Secara singkat, LinkUMKM adalah platform digital BRI yang bisa diakses via website atau aplikasi. Fiturnya beragam: UMKM Smart untuk rekomendasi pengembangan, Coaching Clinic untuk konsultasi dengan mentor, dan Etalase sebagai galeri digital produk. Platform ini juga terhubung dengan komunitas dan menyediakan kanal media berisi informasi inspiratif.
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menegaskan pentingnya pemanfaatan platform semacam ini.
“LinkUMKM kami rancang untuk membantu pelaku UMKM memperkuat kapasitas usaha melalui pemetaan kondisi bisnis, pembelajaran yang aplikatif, serta akses jejaring dan pasar,” tegas Akhmad.
“Melalui proses tersebut, pelaku usaha dapat menyusun prioritas pengembangan secara lebih terukur. Ke depan, BRI mendorong UMKM Indonesia untuk naik kelas dan semakin berperan dalam perekonomian nasional,” pungkasnya.
Kisah Kebab Endul ini mungkin biasa saja. Tapi di baliknya, ada cerita tentang ketekunan, inovasi, dan upaya untuk tumbuh lebih baik satu langkah demi satu langkah.
Artikel Terkait
Menteri Purbaya Turun Langsung Pantau Perbaikan Coretax
45 RT dan 21 Ruas Jalan di Jakarta Masih Terendam, Warga Mulai Mengungsi
Demi Lovato Temukan Ketenangan di Dapur Setelah Perang Panjang dengan Gangguan Makan
Serpihan Pesawat ATR 42-500 Ditemukan di Perbatasan Maros-Pangkep