Dari Dapur Rumah ke Pasar Frozen: Kisah Kebab Endul Bertahan di Tengah Guncangan Ekonomi

- Minggu, 18 Januari 2026 | 16:15 WIB
Dari Dapur Rumah ke Pasar Frozen: Kisah Kebab Endul Bertahan di Tengah Guncangan Ekonomi

Di tengah hiruk-pikuk Kota Bekasi, ada sebuah usaha kuliner yang lahir dari kecemasan seorang ibu di masa pandemi. Kebab Endul, yang berdiri sejak 2020, bermula dari dapur rumah Aisyah Ratna Wulandari. Kala itu, dia hanya ingin menyediakan camilan sehat dan bekal praktis untuk keluarganya. Tapi siapa sangka, ide sederhana itu justru berkembang menjadi bisnis frozen food yang cukup menjanjikan.

Produk andalannya? Kebab beku. Mulai dari kebab mini, kebab daging, sampai yang unik: kebab bandeng tanpa duri berbasis ikan lokal. “Proteinnya tinggi,” begitu kata Aisyah. Mereka juga punya varian keju, ayam, dan rendang. Tak cuma kebab, mereka merambah ke tahu bakso dengan aneka topping. Semua dirancang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, terutama anak-anak.

“Saya memulai usaha Kebab Frozen Endul dari dapur rumah saat pandemi. Waktu itu, banyak ibu rumah tangga dan ibu pekerja kesulitan menyiapkan camilan dan bekal praktis untuk keluarga. Dari situ saya melihat peluang,” ujar Aisyah.

“Perlahan, usaha rumahan ini berkembang hingga kini juga memiliki brand EnduLicious Kebab untuk outlet siap saji dan jaringan reseller serta kemitraan di beberapa kota,” tambahnya.

Model penjualannya hybrid. Mereka punya outlet bernama EnduLicious Kebab, ikut pameran, suplai ke hotel dan restoran (HORECA), juga toko-toko frozen. Kanal online pun tak ketinggalan, lewat marketplace dan media sosial.

Yang menarik, bisnis ini tumbuh dengan prinsip berkelanjutan. Mereka mengembangkan konsep Zero Waste Product. Awalnya, sisa pinggiran kulit kebab cuma jadi camilan keluarga atau dibagi ke tetangga. Tapi sejak 2022, limbah itu diolah menjadi produk baru: Keripik ChipBab. Sebuah langkah cerdas untuk mengurangi sampah sekaligus menambah nilai.

Namun begitu, perjalanan mereka tak selalu mulus. Kenaikan harga bahan baku jadi tantangan nyata. Belum lagi persaingan pasar yang ketat, perubahan selera konsumen, dan keterbatasan SDM serta modal saat permintaan melonjak.

Untuk mengatasi hal itu, Aisyah mencari dukungan. Dia mulai menggunakan platform LinkUMKM dari BRI setelah menjadi bagian dari UMKM binaan Rumah BUMN Jakarta. Platform itu dia jadikan alat evaluasi berkala.


Halaman:

Komentar