Namun begitu, penurunan di AS tertutupi oleh pertumbuhan yang menggembirakan di wilayah lain. Ekspor ke Uni Eropa dan Asia, misalnya, melesat dengan pertumbuhan dua digit. Uni Eropa menyerap barang senilai USD8,06 miliar, sementara Asia menyusul di angka USD5,88 miliar. Performa ini menunjukkan diversifikasi pasar yang berjalan cukup baik.
Kembali ke produk andalan, permintaan untuk kendaraan ramah lingkunganlah yang jadi motor penggerak utama. Pengiriman sedan hijau melonjak 11,0 persen, menyumbang USD25,77 miliar bagi neraca ekspor. Angka ini jelas jadi penyeimbang dari penurunan di sektor lain.
Sayangnya, tidak semua komponen industri otomotif ikut merasakan euforia ini. Pengiriman suku cadang, contohnya, justru mengalami kontraksi 5,9 persen menjadi USD21,20 miliar. Ini mungkin jadi catatan tersendiri di balik kesuksesan yang secara umum terlihat gemilang.
Artikel Terkait
Mari Elka Pangestu Peringatkan Dampak Konflik AS-Israel-Iran ke Ekonomi Indonesia
Pemerintah Larang Truk Besar di Jalan Tol dan Arteri Utama Saat Mudik Lebaran 2026
Gubernur DKI Khawatir Konflik Timur Tengah Picu Gejolak Harga, Siapkan Langkah Antisipasi
APINDO dan Produsen Listrik Swasti Khawatir Pemangkasan Produksi Batu Bara Ancam Pasokan Listrik Nasional