Di Istana Negara, Kamis lalu, suasananya berbeda. Presiden Prabowo Subianto bukan cuma menyapa, tapi berdialog serius dengan seribu lebih rektor dan guru besar dari berbagai kampus di Indonesia. Inti pembicaraannya jelas: di tengah dunia yang lagi bergejolak, kampus punya tugas besar.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, yang mendampingi, kemudian menyampaikan pesan inti itu. Menurutnya, Presiden sangat menyoroti perubahan peta geopolitik global yang dinamis dan kompleks. “Saat ini terjadi pergeseran geopolitik yang cukup signifikan,” ujar Brian, mengutip Presiden.
“Sehingga, setiap negara haruslah menjadi negara yang mampu mandiri, mampu survival.”
Nah, di sinilah peran strategis itu muncul. Dengan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia sebenarnya punya modal kuat untuk berdiri di atas kaki sendiri. Tapi Prabowo menekankan, itu saja tidak cukup. Semua potensi tadi harus didukung oleh kesiapan sumber daya manusia dan penguasaan iptek yang mumpuni. Tanpa itu, mandiri hanya jadi wacana.
Di sisi lain, tantangannya tidak hanya datang dari luar. Presiden juga menyinggung persoalan dalam negeri yang masih menggerogoti. Mulai dari korupsi, praktik under-invoicing, sampai kebocoran anggaran negara. Masalah-masalah klasik yang terus jadi pekerjaan rumah.
Artikel Terkait
KPK Selidiki Aliran Dana Suap Pajak hingga ke Kantor Pusat Ditjen Pajak
Lima Berita yang Mengguncang Dunia Hiburan dan Hukum Kamis Lalu
Media Vietnam Resah, Naturalisasi Indonesia Jadi Ancaman di Piala AFF 2026
Honda Tersudut: Gempuran EV China dan Perubahan Selera Konsumen Menggerus Pasar