Di Istana Negara, Kamis lalu, suasananya berbeda. Presiden Prabowo Subianto bukan cuma menyapa, tapi berdialog serius dengan seribu lebih rektor dan guru besar dari berbagai kampus di Indonesia. Inti pembicaraannya jelas: di tengah dunia yang lagi bergejolak, kampus punya tugas besar.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, yang mendampingi, kemudian menyampaikan pesan inti itu. Menurutnya, Presiden sangat menyoroti perubahan peta geopolitik global yang dinamis dan kompleks. “Saat ini terjadi pergeseran geopolitik yang cukup signifikan,” ujar Brian, mengutip Presiden.
“Sehingga, setiap negara haruslah menjadi negara yang mampu mandiri, mampu survival.”
Nah, di sinilah peran strategis itu muncul. Dengan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia sebenarnya punya modal kuat untuk berdiri di atas kaki sendiri. Tapi Prabowo menekankan, itu saja tidak cukup. Semua potensi tadi harus didukung oleh kesiapan sumber daya manusia dan penguasaan iptek yang mumpuni. Tanpa itu, mandiri hanya jadi wacana.
Di sisi lain, tantangannya tidak hanya datang dari luar. Presiden juga menyinggung persoalan dalam negeri yang masih menggerogoti. Mulai dari korupsi, praktik under-invoicing, sampai kebocoran anggaran negara. Masalah-masalah klasik yang terus jadi pekerjaan rumah.
Karena itu, harapan ke perguruan tinggi jadi lebih berat. Kampus dituntut tak sekadar mencetak sarjana yang pintar secara teknis.
“Tetapi juga berintegritas tinggi, memiliki nasionalisme kuat, dan keberpihakan nyata kepada masyarakat serta bangsa Indonesia,” tegas Brian.
Pesan ini, kata dia, adalah refleksi sekaligus amanat besar. Para pemimpin akademik dianggap sebagai pengawal keilmuan yang akan menentukan arah bangsa ke depan. Dan perhatian Prabowo terhadap dunia kampus ini rupanya bukan sekadar formalitas. Pertemuan Kamis itu adalah yang ketiga kalinya dalam kurun waktu kurang dari setahun. Isyaratnya jelas: dunia pendidikan tinggi benar-benar dipandang sebagai mitra strategis.
Pada akhirnya, semua bermuara pada satu hal. Potensi besar Indonesia harus diimbangi dengan SDM unggul dan penguasaan sains-teknologi. Itulah fondasi untuk membangun kemandirian dan daya saing di kancah global.
“Ini adalah tantangan sekaligus panggilan bagi perguruan tinggi,” kata Brian, menutup penjelasannya. Panggilan untuk memainkan peran yang lebih nyata dan signifikan. Bukan hanya di menara gading, tapi langsung dalam menjawab tantangan zaman.
Artikel Terkait
Kemenkes Luncurkan Sistem Pelabelan Nutri-Level untuk Kendalikan Gula, Garam, dan Lemak
Unpad Nonaktifkan Guru Besar Diduga Pelecehan Seksual terhadap Mahasiswi Pertukaran
Fikri, Bocah Pemulung yang Viral, Kini Temukan Rumah Kedua di Sekolah Rakyat
Laba Ericsson Kuartal I-2026 Turun di Bawah Proyeksi, Tekanan Biaya AI dan Melemahnya Pasar AS Jadi Penyebab