Di Balik Sorak Sorai: Kisah Lelah dan Harapan Para Penjaga Panggung

- Kamis, 15 Januari 2026 | 04:06 WIB
Di Balik Sorak Sorai: Kisah Lelah dan Harapan Para Penjaga Panggung

Hari masih dingin dan sepi ketika mereka mulai berdatangan. Mata masih berat, tapi tangan sudah sibuk. Pekerja event, tukang panggung, pedagang masing-masing membawa beban dan harapannya sendiri. Suasana hening, hanya sesekali terdengar sapaan. Semua tahu, hari ini akan panjang.

Di sudut panggung, seorang teknisi sound duduk merapikan kabel. Tangannya bergerak lincah, meski pikirannya entah ke mana. Kopi sachet hangat di tangannya cuma teman sebentar. Ia ingat tagihan event sebelumnya yang masih menggantung. Pesan ke klien cuma dibaca, belum dibalas. "Yang penting hari ini beres dulu," gumamnya pelan. Seperti mantra untuk diri sendiri.

Tak jauh dari sana, seorang ibu membuka lapak stan dengan perlahan. Ritme ini sudah ia hafal: persiapan dari subuh, berjibaku dengan cuaca, lalu berharap pengunjung ramai. Hasil event kemarin? Cukup untuk modal, tapi belum untuk bernapas lega. Tapi ia tetap datang. "Kalau nggak buka lapak, saya nggak punya cerita apa-apa hari ini," katanya sambil tersenyum tipis. Ada kebanggaan di balik lelah itu.

Siang hari, masalah datang tanpa diundang. Listrik turun sejenak, musik terhenti. Suara dari balik panggung mulai meninggi. Klien terlihat panik, marah, khawatir acara rusak. Amarah itu akhirnya jatuh ke pundak kru yang sejak pagi belum berhenti bekerja. Tak semua bisa dijelaskan saat itu. Kadang, diam adalah jawaban paling aman.

Namun begitu, cuma selang beberapa meter di depan, pemandangannya sungguh berbeda. Lampu sorot berkilauan, musik menggema, dan ratusan pengunjung tertawa riang. Influencer berpose dengan senyum sempurna, mengabadikan kemeriahan untuk media sosial. Mereka menikmati setiap detik pertunjukan, tanpa pernah tahu tentang keringat dingin atau perut keroncongan di balik layar yang membuat semua itu tetap berjalan.

Di belakang panggung, realitanya seringkali keras. Ada kru yang ditegur di depan umum. Vendor yang harus mengulang pekerjaan karena permintaan mendadak berubah. Atau panitia yang menahan sebukan air mata di balik headset-nya. Di dunia ini, profesionalisme kerap berarti menyimpan semua perasaan jauh di dalam saku.


Halaman:

Komentar