Bayangkan ruang kuliah ideal: dosen hadir, diskusi hidup, dan nilai akhir benar-benar mencerminkan perjalanan belajar. Sayangnya, bagi banyak mahasiswa, gambaran itu jauh dari kenyataan. Yang sering terjadi justru sebaliknya: dosen jarang muncul, kelas sepi, komunikasi macet. Ironisnya, di luar kampus, sosok yang sama bisa sangat aktif membangun citra di media sosial. Lalu, di akhir semester, nilai pun keluar seringkali mengecewakan dan penuh tanda tanya.
Pertanyaannya sederhana, tapi menusuk: bagaimana mungkin penilaian disebut objektif jika proses pembelajarannya sendiri hampir tak terasa?
Kehadiran yang Hanya di Kertas
Memang, kesibukan dosen itu nyata. Tapi kesibukan seharusnya tak menghapus tanggung jawab utama mereka: mendampingi mahasiswa. Faktanya, ketidakhadiran di kelas jarang diimbangi dengan skema pengganti yang jelas. Grup WhatsApp mati suri, pesan mahasiswa mengambang tak terjawab, jadwal kuliah berjalan sendiri bak kereta tanpa masinis.
Dalam situasi seperti ini, tuduhan "malas" pada mahasiswa terasa tidak adil. Mereka bukan malas. Mereka kehilangan akses pada proses belajar yang seharusnya menjadi hak mereka.
Komunikasi yang Sepihak, Ketidakpastian yang Membelenggu
Masalah lain yang kerap muncul adalah putusnya komunikasi dua arah. Jadwal kuliah tiba, dosen tak hadir, dan tak ada kabar. Mahasiswa bertanya, tapi hanya diam yang membalas. Hal ini menciptakan atmosfer ketidakpastian yang sungguh melelahkan secara mental.
Padahal, komunikasi adalah nyawa dari pendidikan. Tanpanya, ruang kuliah berubah jadi sekadar ritual administratif yang hampa.
Ujian Tiba-tiba dan Sistem yang Kacau
Puncak kebingungan sering terjadi saat ujian diumumkan secara mendadak. Bahkan, tak jarang jadwalnya melenceng dari kalender akademik resmi. Tanpa kisi-kisi jelas, apalagi pertemuan persiapan, ujian berubah jadi momok. Bukan lagi alat evaluasi, melainkan ujian ketahanan menghadapi sistem yang amburadul.
Dalam kondisi demikian, yang diuji bukan cuma pemahaman materi. Tapi lebih pada kemampuan bertahan dalam ketidakteraturan.
Citra Digital vs Tanggung Jawab Nyata
Di era sekarang, membangun personal branding itu penting, sih. Tapi dalam dunia pendidikan, hal itu tak boleh menggeser peran utama. Ada kesan janggal ketika kelas terbengkalai, sementara feed media sosial dipenuhi konten sang dosen. Seolah-olah, ruang kelas bukan lagi prioritas.
Ini bukan soal melarang dosen tampil di publik. Ini soal keseimbangan. Pendidikan tak bisa dibangun hanya lewat citra; ia butuh kehadiran dan komitmen yang riil.
Nilai Datang, Penjelasan Tidak
Nilai akhir sejatinya adalah cermin dari proses. Tapi ketika prosesnya hampir nol, nilai yang muncul terasa seperti keputusan sepihak dari langit. Tak ada umpan balik, tak ada klarifikasi. Ruang untuk bertanya pun sempit.
Alhasil, mahasiswa menerima nilai begitu saja. Bukan karena mereka paham di mana letak kesalahannya, tapi karena mereka tak punya pilihan lain.
Budaya Diam yang Mengakar
Lantas, mengapa kondisi ini bisa bertahan? Salah satu biang keroknya adalah budaya diam yang terpelihara. Banyak mahasiswa memilih bungkam, takut dicap sebagai pembuat onar. Evaluasi dosen memang ada, tapi dampaknya sering tak kelihatan.
Ketika suara mereka tak didengar, ketidakadilan lambat laun berubah jadi norma yang diterima begitu saja.
Menghidupkan Kembali Etika Akademik
Tulisan ini bukan untuk menyalahkan secara personal. Ini lebih pada pengingat: etika akademik itu jalan dua arah. Kehadiran, komunikasi, dan transparansi penilaian bukan formalitas belaka. Itu adalah inti dari tanggung jawab profesional seorang pendidik.
Jika kampus ingin meluluskan insan yang kritis dan berintegritas, maka praktik di dalam kelas harus menjadi contoh pertama.
Mahasiswa sejatinya tak menuntut yang muluk-muluk. Mereka cuma butuh kejelasan, pendampingan yang konsisten, dan penilaian yang adil. Saat dosen hilang, komunikasi putus, ujian dadakan, dan nilai jeblok datang tanpa penjelasan, yang patut dipertanyakan bukan cuma kemampuan mahasiswa. Tapi lebih pada, bagaimana sistem pendidikan ini dijalankan.
Karena pendidikan yang bermutu tak mungkin lahir dari ketidakpastian. Ia hanya bisa tumbuh dari proses yang jujur, adil, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Artikel Terkait
Bapanas Pantau Stabilitas Harga dan Pasokan Pangan di Banten Pasca-Lebaran
Menteri ESDM: Indonesia Kejar Pasokan Minyak Mentah dari Rusia untuk Tutupi Defisit Energi
Kemenperin Antisipasi Gangguan Rantai Pasok Petrokimia Akibat Gejolak Selat Hormuz
Kementerian Kehutanan Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di Riau Cegah Karhutla