Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto tampak tenang. Ia memastikan Indonesia tidak merasa khawatir dengan ancaman tarif tambahan dari Amerika Serikat. "Tidak ada," ujarnya dengan singkat, saat ditemui di Menara Kadin, Selasa lalu.
Menurut Airlangga, kebijakan AS itu dinilai tak akan berdampak signifikan. Alasan utamanya sederhana: nilai perdagangan kita dengan Iran memang tidak besar. "Kita transaksinya tidak besar," jelasnya, menegaskan bahwa eksposur Indonesia terhadap situasi ini sangat terbatas.
Ancaman tarif itu sendiri datang langsung dari Presiden AS, Donald Trump. Melalui unggahan di Truth Social, platform media sosial miliknya, Trump bersikap keras. Ia menyatakan akan mengenakan tarif 25% bagi negara mana pun yang masih berbisnis dengan Iran. "Keputusan ini final," tulisnya.
"Presiden Trump selalu menyatakan bahwa diplomasi adalah pilihan pertama,"
Demikian penegasan Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, awal pekan ini. Meski begitu, ia juga menyisipkan bahwa opsi militer tidak akan pernah dihapus dari meja perundingan jika situasi memaksa.
Langkah Trump ini sebenarnya bukan yang pertama. Ini adalah bagian dari tekanan ekonomi berlapis Washington terhadap Iran, yang sudah lama dikenai berbagai sanksi. Bahkan, tahun lalu, serangan terhadap fasilitas nuklir Iran dilakukan AS untuk mendukung Israel. Belum lama ini, ancaman intervensi militer untuk melindungi demonstran anti-pemerintah juga sempat menggema.
Namun begitu, bagi Indonesia, langkah-langkah itu tampaknya masih jauh dari urusan perut. Pemerintah, setidaknya dari pernyataan Airlangga, memilih untuk bersikap santai. Fokus tetap pada menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri, sambil mengamati dinamika geopolitik yang terus berubah dengan cepat.
Artikel Terkait
Iran Tutup Kembali Selat Hormuz Menyusul Ancaman Blokade AS dari Trump
JK Jelaskan Alasan Pakai Istilah Syahid dalam Ceramah di Masjid UGM
Iran Buka Kembali Selat Hormuz, Nasib Kapal Tanker Pertamina Mulai Terang
Swasembada Gula 2028 Terhambat Produktivitas Rendah dan Pabrik Tua