Dampaknya seperti lingkaran setan. Pemerintah diprediksi terpaksa menambah utang baru, hanya untuk membayar bunga dari utang yang sudah ada. Awalil memprakirakan, penarikan utang baru secara bruto sepanjang 2025 bisa mencapai Rp1.563 triliun jauh lebih tinggi dari angka pembiayaan neto yang biasa kita dengar.
Di sisi lain, rasio utang jika dibandingkan dengan pendapatan negara juga menunjukkan gambaran suram. Per akhir 2025, angkanya disebut mencapai 349,96 persen. Bayangkan, itu jauh melampaui batas aman yang direkomendasikan IMF, yaitu sekitar 90-150 persen saja.
Belum lagi soal beban bunga. Rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara tahun lalu diprediksi membengkak hingga 18,65 persen. Padahal, standar IMF cuma di kisaran 7-10 persen. Dengan kondisi seperti ini, ruang gerak pemerintah untuk membiayai pembangunan pasti makin sempit. Porsi pendapatan yang habis untuk urusan utang makin besar.
Awalil tak berhenti di situ. Ia juga memberikan sinyal peringatan tentang kesinambungan fiskal untuk jangka menengah dan panjang. Menurutnya, ada risiko nyata yang mengintai operasional keuangan negara di tahun ini.
"Kondisi utang pemerintah cukup mengkhawatirkan. Tidak tertutup kemungkinan, pemerintah alami gagal sebagian kewajiban utang, terutama bunganya, pada tahun 2026. Sekurangnya, kesinambungan fiskal jangka menengah dan panjang telah terancam," tegasnya.
Sementara itu, dari pihak pemerintah, Kementerian Keuangan hingga kini belum merilis angka resmi posisi utang per akhir 2025. Mereka beralasan, angka pasti baru akan dibuka pada Februari 2026 nanti, setelah data PDB dari BPS dirilis. Kita tunggu saja.
Artikel Terkait
Shoigu Telepon Iran, Kutuk Keras Campur Tangan Barat
Paket Ekonomi 2025 Cetak 100 Ribu Pekerja Baru, Daya Beli Dijaga Lewat Insentif Pajak
Sri Mulyani Masuk Dewan Direksi Gates Foundation, Bawa Misi Global
Setelah Duka, Joanna Alexandra Sambut Cinta Baru dengan Cincin Pertunangan