Tahun 2025 ditutup industri otomotif dengan angka yang cukup menggembirakan. Penjualan motor domestik ternyata mampu merangkak naik, meski tipis. Tercatat, lebih dari 6,4 juta unit roda dua berhasil diserap pasar. Angka ini naik sekitar 1,3% dibanding realisasi setahun sebelumnya yang berada di kisaran 6,33 juta unit.
Tapi, kalau kita selami lebih dalam, ada cerita menarik di balik angka-angka itu. Dominasi satu segmen terlihat sangat kuat.
Menurut data dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), skutik masih jadi raja tanpa tanding. Pangsa pasarnya bahkan menguat, menyentuh 91,7% di 2025. Artinya, dari sepuluh motor baru yang meluncur di jalan, sembilan di antaranya adalah skuter matik. Posisinya semakin kokoh dibanding tahun 2024.
Di sisi lain, segmen lain justru terlihat tertekan. Motor underbone dan sport, misalnya, pangsa pasarnya menyusut. Underbone kini hanya mencakup 4,46%, turun dari sebelumnya. Begitu pula motor sport, yang berkontraksi ke angka 3,51%. Sementara itu, kehadiran motor listrik masih sangat minim, belum sampai 1% dari total pasar.
Lalu, bagaimana pasar bisa tetap stabil di tengah isu tekanan ekonomi? Sigit Kumala, Ketua Bidang Komersial AISI, punya penjelasannya.
"Rata-rata per bulan penjualan sepeda motor domestik berada di angka 535 ribu unit. Ini menggambarkan sepeda motor memang sangat dibutuhkan, baik untuk kegiatan ekonomi produktif maupun untuk kebutuhan leisure dan gaya hidup masyarakat,"
katanya.
Menurut sejumlah analisis, stabilitas ini juga tak lepas dari peran besar industri pembiayaan. Faktanya, sekitar 65% transaksi pembelian motor baru masih mengandalkan kredit. Skema ini jelas menjadi penopang utama agar permintaan tetap bergerak.
Sigit menambahkan konteks yang lebih personal. “Tahun lalu diwarnai penurunan daya beli, terutama di masyarakat ekonomi menengah. Mereka memilih membeli sepeda motor untuk menopang kegiatan ekonomi produktif. Hal ini yang membuat pasar tetap tumbuh meski tidak signifikan,”
terangnya.
Jadi, meski pertumbuhannya tak meledak, pasar motor nasional menunjukkan ketahanannya. Motor bukan sekadar gaya hidup, tapi sudah jadi bagian dari nafas ekonomi banyak orang. Untuk tahun 2026, optimisme masih ada. Industri berharap tren positif ini bisa terus berlanjut.
Artikel Terkait
Jokowi Tegaskan Restorative Justice Murni Ranah Aparat, Diam Saat Tanya Roy Suryo
Pria Diamuk Massa Usai Gagal Curi Motor di Parung
Presiden Prabowo Minta Dosen Terlibat dalam Proyek Giant Sea Wall
Bapanas: Harga Pangan Terkendali, Ancaman Utama dari Kenaikan Biaya Kemasan