Status Siaga DIY Diperpanjang, Warga Diminta Waspadai Ancaman Hingga Maret

- Senin, 12 Januari 2026 | 18:12 WIB
Status Siaga DIY Diperpanjang, Warga Diminta Waspadai Ancaman Hingga Maret

Yogyakarta masih belum bisa bernapas lega. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) baru saja memutuskan untuk memperpanjang status siaga darurat bencana hidrometeorologi. Status ini akan terus berlaku hingga Maret 2026, sebuah langkah yang diambil untuk mengantisipasi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih mengintai di puncak musim hujan ini.

Keputusan resminya tertuang dalam Keputusan Gubernur DIY Nomor 432 Tahun 2025. Artinya, sejak 20 Desember tahun lalu hingga 19 Maret mendatang, seluruh wilayah DIY secara resmi berada dalam status siaga. Cakupannya luas: mulai dari banjir, tanah longsor, sampai ancaman cuaca ekstrem lainnya.

Agustinus Ruruh Haryata, sang Kepala Pelaksana BPBD DIY, menjelaskan alasan di balik keputusan ini. Menurutnya, ini murni langkah antisipatif.

"Kalau menurut prediksi BMKG, puncak curah hujan di tahun ini kan ada di Januari-Februari," ujarnya di Yogyakarta, Senin (12/1).

"Ini kan sebagai langkah antisipatif bagaimana kita menghadapi bencana hidrometeorologi. Jadi, lebih baik kita siap daripada tergagap," tambah Ruruh, menegaskan filosofi kesiapsiagaan yang diusung.

Peringatan untuk Warga: Waspada di Lingkungan Sendiri

Di sisi lain, Ruruh tak henti-hentinya mengimbau masyarakat untuk ikut meningkatkan kewaspadaan. Ia meminta warga jeli mengidentifikasi potensi risiko di sekitar rumah mereka, baik sendiri maupun secara berkelompok.

Bahaya itu seringkali bersembunyi di tempat yang kurang diperhatikan. Misalnya, pohon-pohon tinggi yang sudah rapuh atau saluran drainase yang tersumbat dan tak berfungsi maksimal saat hujan deras tiba.

"Pohon-pohon yang tinggi dan rapuh itu segera dilakukan pruning. Kalau sudah rapuh ya dipotong, karena beberapa kali kejadian pohon tumbang justru menimbulkan korban jiwa," tegasnya.

Bagi yang tinggal di daerah perbukitan atau kontur tanah tidak rata, perhatian khusus harus diberikan. Masyarakat diminta mewaspadai munculnya rekahan tanah, sekecil apapun itu.

"Kalau sudah mulai ada rekahan, tolong informasikan kepada teman-teman di lapangan, baik relawan di Kalurahan Tangguh Bencana maupun melalui saluran informasi yang kita miliki, supaya bisa segera dilakukan asesmen," pinta Ruruh.

Ia juga menyebut, koordinasi dengan BPBD kabupaten/kota terus dilakukan. Pemantauan ketat lewat Pusdalops (Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana) juga berjalan. "Kalau kemudian perlu backup dari kami di provinsi, teman-teman TRC akan kami turunkan," janjinya. Imbauan ini bukan tanpa alasan. Di awal Januari 2026 saja, beberapa kejadian seperti puting beliung dan amblesan tanah di Girikarto, Panggang, Gunungkidul, sudah tercatat.

Prakiraan Hujan: Masih Tinggi Hingga Maret

Lalu, bagaimana sebenarnya prakiraan cuaca ke depannya? Reni Kraningtyas, Kepala Stasiun Klimatologi DIY, memberikan gambaran yang cukup detail.

Untuk Januari ini, curah hujan diprediksi masih berkisar antara 201 hingga lebih dari 500 milimeter per bulan. Angka yang termasuk kategori menengah hingga sangat tinggi. Sifat hujannya pun diprakirakan normal hingga di atas normal.

Memasuki Februari, intensitasnya mungkin sedikit melandai. Curah hujan diprakirakan antara 201-500 mm/bulan (kriteria menengah hingga tinggi), dengan sifat hujan yang seluruhnya normal. Tren penurunan berlanjut ke Maret, dengan kisaran 201-400 mm/bulan dan sifat hujan dari bawah normal hingga normal.

Meski ada tren penurunan, Reni tetap mengingatkan semua pihak untuk tidak lengah. Kesiapsiagaan harus tetap maksimal, terutama di daerah rawan banjir, longsor, dan angin kencang.

"Melakukan langkah mitigasi, seperti membersihkan saluran air, memangkas dahan pohon, serta memastikan kekuatan baliho di ruang publik," tuturnya, menyebut beberapa tindakan konkret yang bisa segera dilakukan.

Jadi, pesannya jelas. Pemerintah sudah bergerak dengan status siaga daruratnya. Kini, giliran masyarakat untuk ikut ambil bagian, memastikan lingkungan mereka sendiri lebih aman menghadapi sisa musim hujan yang masih panjang ini.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar