Jerome Powell, sang ketua Federal Reserve, kini menghadapi badai. Departemen Kehakiman Amerika Serikat secara resmi membuka penyelidikan kriminal terhadap dirinya. Ini bukan perkara kecil.
Dalam sebuah pernyataan video yang cukup mengejutkan, Powell mengungkapkan bahwa bank sentral telah menerima surat panggilan dari Departemen Kehakiman. Intinya, mereka mengancam akan mendakwanya secara pidana. Tuduhannya berkaitan dengan kesaksian yang ia berikan di hadapan Kongres. Soalnya soal apa? Proyek renovasi markas besar The Fed di Washington yang dituding membengkak biayanya. Pihak berwenang menilai Powell melakukan manipulasi saat menjawab pertanyaan senator tahun lalu.
Namun begitu, Powell punya pandangan lain. Ia merasa penyelidikan ini punya aroma balas dendam politik. Dalam videonya, ia menyiratkan bahwa langkah hukum ini dibuka karena ia telah memicu kemarahan Presiden Donald Trump. Penyebabnya klasik: ia dianggap menolak untuk menurunkan suku bunga dengan tempo yang lebih cepat sesuai keinginan Gedung Putih.
"Ini tentang apakah The Fed akan dapat terus menetapkan suku bunga berdasarkan bukti dan kondisi ekonomi, atau apakah kebijakan moneter akan diarahkan oleh tekanan politik atau intimidasi," tegas Powell.
Powell bukan orang pertama yang berselisih dengan Trump lalu berurusan dengan Departemen Kehakiman. Ia hanyalah sosok terbaru dalam daftar itu. Tapi posisinya sebagai ketua bank sentral membuat kasus ini istimewa dan berbahaya bagi stabilitas.
"Saya sangat menghormati supremasi hukum. Tidak seorang pun, tentu saja bukan ketua Federal Reserve, berada di atas hukum," katanya. Tapi ia menambahkan, "tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini harus dilihat dalam konteks ancaman dan tekanan berkelanjutan dari pemerintahan."
Memang, kritik Trump terhadap Powell bukan rahasia lagi. Presiden kerap menyuarakan kekecewaannya karena suku bunga tak turun secepat yang ia mau. Meski begitu, pada paruh kedua 2025, The Fed tetap melakukan tiga kali pemotongan suku bunga.
Gelombang reaksi pun datang. Dari kalangan Senat, suara Senator Thom Tillis dari Carolina Utara cukup keras. Sebagai anggota Komite Perbankan dari Partai Republik, ia menyatakan akan memblokir pencalonan pengganti Powell dan calon anggota Dewan Fed lainnya selama masalah hukum ini belum tuntas.
"Jika masih ada keraguan apakah para penasihat di dalam Pemerintahan Trump secara aktif mendorong untuk mengakhiri independensi Federal Reserve, sekarang seharusnya tidak ada lagi," kata Tillis.
"Sekarang yang dipertanyakan adalah independensi dan kredibilitas Departemen Kehakiman."
Menurut laporan awal dari New York Times, penyelidikan rumit ini akan diawasi oleh Kantor Kejaksaan AS untuk Distrik Columbia. Situasinya masih berkembang, dan semua mata tertuju pada bagaimana drama antara kekuasaan politik dan independensi bank sentral ini akan berakhir.
Artikel Terkait
Roy Suryo Sindir Rismon Soal SP3: Zombie Itu Sudah Bikin Surat Kematian Palsu
Mentan: Swasembada Pangan Hanya Mungkin dengan Sinergi Pusat-Daerah
Remaja 14 Tahun Tembak Mati 9 Orang di Sekolah Turki, Profil WhatsApp Tampilkan Pelaku Penembakan AS
KPK Geledah Rumah Dinas Bupati Tulungagung, Dokumen Diduga Alat Pemerasan Disita