Di sisi lain, muncul juga pembelaan atas nama kebebasan pribadi. Perdebatan online pun pecah menjadi dua kubu: yang menuntut sikap hormat pada budaya lokal, dan yang menekankan bahwa ruang terbuka adalah untuk semua orang.
Menurut sejumlah saksi yang melihat unggahan awal, suasana di kolom komentar memang memanas. Tapi ada poin penting yang diangkat beberapa orang: insiden seperti ini seharusnya jadi bahan edukasi, bukan sekadar ajang saling hujat. Bagaimanapun, traveler dari belahan dunia lain bisa saja tidak aware dengan aturan tak tertulis di tempat yang mereka kunjungi.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pengelola kuil atau otoritas Chiang Mai. Tapi kasus ini jelas memberikan pelajaran. Berwisata ke negeri orang bukan cuma urusan foto-foto cantik atau mencari sinar matahari. Lebih dari itu, kita perlu membuka mata dan hati untuk memahami nilai-nilai setempat terutama ketika berdiri di tanah yang dianggap suci oleh pemiliknya.
Chiang Mai sendiri sebenarnya sudah lama jadi destinasi favorit turis mancanegara. Tapi kejadian viral ini mengingatkan semua pihak bahwa kadang, batas antara ruang publik dan area sakral bisa sangat tipis. Dan itu perlu diwaspadai.
Artikel Terkait
Golden Globes 2026: One Battle After Another Borong Piala, Animasi Korea Torehkan Sejarah
Zahra Muzdalifah: Kekecewaan SEA Games Jadi Bahan Bakar Rebut AFF 2026
Nadiem Hadapi Putusan Sela Kasus Korupsi Chromebook Rp809 Miliar
Powell Dihadang Dakwaan Pidana, Independensi The Fed Diujung Tanduk