Di sisi lain, Nuke Hanasasmit lewat "Kau" juga menyuarakan kepedihan yang sama. Puisi ini memakai kata ganti "kami" untuk mewakili rakyat pekerja yang hidup susah. Sebaliknya, "kau" adalah pihak berkuasa yang hidup berkecukupan tapi acuh tak acuh.
Berbeda dengan seruan perlawanan terbuka ala Thukul, Hanasasmit lebih memilih bentuk perlawanan moral. Ada keyakinan spiritual bahwa keadilan sejati akan datang, meski harus lewat jalan yang lain.
Jadi, dari aspek status sosial pengarang, kedua puisi ini memang lahir dari kepekaan yang mirip. Mereka sama-sama menjadikan puisi sebagai ruang untuk yang tak bersuara. Perbedaannya cuma pada bentuk perlawanannya. Thukul menawarkan perlawanan struktural yang kolektif, sementara Hanasasmit menghadirkan gugatan moral yang personal.
Latar belakang sosial-budaya seorang pengarang memang sangat menentukan. Lingkungan dan realitas yang disaksikan langsung membentuk tema dan sikap karyanya. Thukul, yang hidup di tengah represi Orde Baru, memakai metafora sederhana namun kuat: bunga melawan tembok. Meski penuh derita, puisinya tak pernah kehilangan harapan. Ada keyakinan bahwa perlawanan itu sendiri adalah jawabannya.
Sementara Hanasasmit menggambarkan kehidupan masyarakat kecil yang kerja keras hanya untuk bertahan, namun selalu diabaikan. Bahasanya lugas, langsung menusuk. Puisi ini adalah protes terhadap ketimpangan dan ketidakpedulian.
Singkatnya, lewat pendekatan sosiologi sastra, kita bisa melihat betapa puisi bukanlah karya yang steril. Ia adalah cermin sekaligus kritik atas zamannya. Seperti dua karya ini, ia bisa menjadi suara perlawanan yang paling lantang, justru ketika kebisuan dipaksakan.
Artikel Terkait
Prabowo Resmikan Kilang Balikpapan Senin Ini, Investasi Rp 123 Triliun untuk Hentikan Impor BBM
Dari Truk Dakar hingga Motor Listrik: Wajah Otomotif yang Terus Berubah
Harga Pertamax dan Dexlite Turun, Pertalite Tetap Bertahan
Di Balik Pesona Danau Batur, Ancaman Racun Diam-Diam Mengintai