Puisi itu bukan cuma soal keindahan kata-kata. Lebih dari itu, ia bisa jadi teriakan, protes, atau suara mereka yang kerap dibungkam. Dalam sejarah sastra kita, puisi seringkali muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap penindasan. Dua karya yang jelas-jelas mewakili semangat ini adalah "Bunga dan Tembok" karya Wiji Thukul dan "Kau" dari Nuke Hanasasmit. Meski lahir di zaman yang berbeda, keduanya punya kesamaan: memakai puisi sebagai alat kritik sosial yang tajam, menyoroti ketidakadilan yang dilakukan oleh penguasa.
Nah, kalau kita tilik dari kacamata sosiologi sastra seperti yang pernah diulas Wellek dan Warren dalam Theory of Literature ada tiga aspek yang biasanya dikaji: sosiologi pengarang, karya, dan pembaca. Untuk tulisan ini, kita fokus pada dua aspek pertama saja. Soalnya, latar belakang dan posisi sosial seorang penyair itu sangat memengaruhi cara dia memandang dunia dan menuangkannya ke dalam karyanya. Pengalaman hidup dan kedudukannya di masyarakat membentuk sudut pandangnya. Hal itu terasa banget dalam puisi Thukul dan Hanasasmit.
Ambil contoh, tema utama dalam kedua puisi itu saling berkait: penindasan dan ketidakadilan. Keduanya menggambarkan betapa rakyat kecil sering dirampas haknya dan penderitaannya diabaikan oleh yang berkuasa. Tapi, cara mereka merespons kondisi itu agak berbeda. "Bunga dan Tembok" lebih menekankan pada perlawanan kolektif, keyakinan bahwa tirani pasti tumbang. Sementara "Kau" lebih ke perlawanan moral, gugatan yang menyentuh nurani dan berharap pada keadilan yang lebih tinggi.
Rasanya pun beda. Puisi Thukul terasa marah, berani, menantang. Sedangkan puisi Hanasasmit lebih pedih, kecewa, namun tetap tegas. Nada keduanya kritis, tapi dengan caranya masing-masing. Yang satu seperti teriakan di jalanan, yang lain seperti bisikan yang menggugah hati. Pesannya jelas: jangan diam saja melihat penindasan. Kedua penyair ini mengajak kita untuk peka, berani bersuara, dan tak kehilangan nurani.
Mari kita lihat lebih dekat sang penyairnya. Wiji Thukul nama aslinya Wiji Widodo hidupnya memang dekat dengan rakyat kecil. Lahir dan besar di Solo, lingkungan sederhana itu membentuk kepeduliannya. Di era Orde Baru, puisinya dianggap berbahaya karena vokal mengkritik penguasa. Hingga akhirnya, ia hilang secara paksa di tahun 1998. Status sosialnya sebagai bagian dari kaum tertindas membuat tulisannya begitu berpihak.
Dalam "Bunga dan Tembok", rakyat kecil digambarkan sebagai "bunga" yang tak diinginkan kehadirannya oleh penguasa. Kekuasaan itu sendiri dilukiskan sebagai "tembok" yang kaku, yang lebih mementingkan proyek daripada manusia. Tapi Thukul tak hanya mengeluh. Ia menanamkan semangat perlawanan.
Ada keyakinan kuat bahwa penindasan justru akan memicu perlawanan yang lebih besar, yang pada akhirnya meruntuhkan tirani itu sendiri.
Artikel Terkait
Prabowo Resmikan Kilang Balikpapan Senin Ini, Investasi Rp 123 Triliun untuk Hentikan Impor BBM
Dari Truk Dakar hingga Motor Listrik: Wajah Otomotif yang Terus Berubah
Harga Pertamax dan Dexlite Turun, Pertalite Tetap Bertahan
Di Balik Pesona Danau Batur, Ancaman Racun Diam-Diam Mengintai