Lalu, untuk apa dana itu nantinya? Trump sudah berulang kali menyebut angka fantastis, 30 hingga 50 juta barel minyak. Hasil penjualannya, klaim pemerintah AS, akan digunakan untuk memberi manfaat ganda. Di satu sisi untuk rakyat Venezuela, di sisi lain untuk kepentingan Amerika sendiri.
Ada alasan praktis di balik rencana penjualan ini. Selain menjaga agar aliran pendapatan tetap ada pasca-penangkapan Presiden Nicolás Maduro, langkah ini juga diharapkan bisa mengurangi tumpukan minyak mentah di gudang-gudang penyimpanan yang sudah terlalu penuh.
Namun begitu, Gedung Putih juga menyelipkan peringatan. Mereka mengklaim bahwa jika negara atau kreditor lain mencoba mengakses dana tersebut, itu akan membahayakan tujuan strategis AS. Ancaman itu secara khusus diarahkan pada Iran dan Hizbullah, yang selama ini menjadi perhatian utama pemerintahan Trump.
Jadi, lewat perintah darurat ini, Trump bukan cuma mengamankan aset. Ia juga sedang menyusun posisi untuk langkah-langkah diplomatik dan ekonomi selanjutnya.
Artikel Terkait
Komite Protes Pasal Perjanjian Dagang RI-AS yang Dinilai Lemahkan Ekosistem Pers
Saham Jantra Grupo (KAQI) Melonjak 21,9%, Jadi Top Gainer Bursa
OJK dan Pemerintah Inggris Bentuk Kelompok Kerja Strategis untuk Pembiayaan Iklim
IMF Desak AS Kurangi Pembatasan Perdagangan demi Stabilitas Global