Lalu, peran Pertamina apa? Perusahaan migas ini akan bertindak sebagai offtaker dan agregator infrastruktur distribusi. Jaringan distribusi mereka yang luas diharapkan bisa menyalurkan hasil hilirisasi seperti DME dan SNG secara efektif ke masyarakat dan industri. Intinya, jadi substitusi untuk energi impor.
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menyebut kolaborasi ini sebagai sebuah tonggak sejarah. Bagi dia, ini tentang kedaulatan energi Indonesia.
Latar belakangnya cukup mendesak. Data dari Kementerian ESDM memproyeksikan konsumsi LPG nasional bakal menyentuh 10 juta metrik ton pada 2026. Sementara itu, produksi domestik kita hanya sekitar 1,3–1,4 juta metrik ton. Defisitnya sangat besar.
Nah, sinergi MIND ID dan Pertamina inilah yang diharapkan bisa menutup celah itu. Dengan mengonversi batu bara menjadi DME dan SNG, Indonesia berharap bisa memanfaatkan kekayaan alamnya sendiri. Semua demi satu hal: kemandirian energi yang lebih nyata.
(Shifa Nurhaliza Putri)
Artikel Terkait
Amerika Serikat Hibahkan Rp 41,75 Miliar untuk Perencanaan Smart City IKN
Jadwal Imsak dan Salat di Bekasi untuk Jumat, 27 Februari 2026
Imsak Depok Hari Ini Pukul 04.33 WIB, Subuh 04.43 WIB
Garuda Indonesia Fokus Optimalisasi Kinerja Usai Penguatan Fondasi