Memang, situasi di Iran sedang memanas. Gelombang demonstrasi besar-besaran telah mengguncang negara itu selama sepekan terakhir. Pemicunya klasik tapi mendalam: ekonomi yang terpuruk. Nilai mata uang rial terjun bebas, menyentuh angka fantastis di atas 1,35 juta untuk satu dolar AS. Rakyat lelah, dan kemarahan mereka meluap ke jalanan.
Di tengah gejolak itu, Donald Trump sebelumnya sudah lebih dulu melemparkan pernyataan provokatif. Dia berjanji AS akan "menyelamatkan" para demonstran jika pemerintah Iran menggunakan kekuatan mematikan. Ucapan itu, tentu saja, langsung dibalas dengan kemarahan oleh para pejabat tinggi di Teheran.
Kini, dengan ancaman terbuka dari Graham yang mengatasnamakan Trump, ketegangan antara Washington dan Teheran memasuki babak baru yang lebih berbahaya. Sebuah ancaman personal yang langka, dan bisa memicu konsekuensi yang tak terduga.
Artikel Terkait
Arab Saudi Resmi Tutup Visa Haji Furoda untuk Tahun 2026
Pemerintah Izinkan Maskapai Naikkan Fuel Surcharge hingga 38% Imbas Harga Avtur Melonjak
Pemerintah Tegaskan WFH untuk Swasta Hanya Imbauan, Bukan Kewajiban
Heineken Gelar Kampanye Fans Have More Friends, Tawarkan 7 Tiket ke Final Liga Champions