Memang, situasi di Iran sedang memanas. Gelombang demonstrasi besar-besaran telah mengguncang negara itu selama sepekan terakhir. Pemicunya klasik tapi mendalam: ekonomi yang terpuruk. Nilai mata uang rial terjun bebas, menyentuh angka fantastis di atas 1,35 juta untuk satu dolar AS. Rakyat lelah, dan kemarahan mereka meluap ke jalanan.
Di tengah gejolak itu, Donald Trump sebelumnya sudah lebih dulu melemparkan pernyataan provokatif. Dia berjanji AS akan "menyelamatkan" para demonstran jika pemerintah Iran menggunakan kekuatan mematikan. Ucapan itu, tentu saja, langsung dibalas dengan kemarahan oleh para pejabat tinggi di Teheran.
Kini, dengan ancaman terbuka dari Graham yang mengatasnamakan Trump, ketegangan antara Washington dan Teheran memasuki babak baru yang lebih berbahaya. Sebuah ancaman personal yang langka, dan bisa memicu konsekuensi yang tak terduga.
Artikel Terkait
Indonesia dan Italia Perkuat Kemitraan, Dagang Bilateral Tembus Rp 60 Triliun
Nvidia Pilih Malaysia, BKPM Soroti Kekurangan SDM Komputer Indonesia
Skutik Tetap Berjaya, Pasar Motor 2025 Tumbuh Tipis di Tengah Tekanan Daya Beli
PNBP ESDM Tembus Rp138 Triliun, Lampaui Target Meski Migas Terseok