Perjuangan mengatasi ketimpangan ini, ungkap Prabowo, bukan hal baru. Dia sudah memulainya jauh sebelum duduk di kursi presiden. Saat memimpin Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan partai politik, kegelisahannya sudah muncul melihat situasi yang janggal.
“Dari tahun ke tahun sebelum jadi presiden saya berjuang, berjuang sebagai ketua umum HKTI, sebagai ketua umum sebuah partai. Kenapa? Karena saya lihat ada kejanggalan di bangsa kita. Sudah berapa tahun negara yang begini kaya rakyatnya masih banyak yang miskin,” ucapnya.
Baginya, kondisi itu sulit diterima. Tidak masuk akal sehat, juga mengusik hati nurani. Terutama soal satu hal: ketergantungan impor pangan.
“Terutama yang tidak masuk di akal saya bagaimana bisa negara yang begini besar, negara yang diberi karunia oleh Yang Maha Kuasa bumi yang luas, bumi yang kaya, tanah yang subur, tetapi kita tergantung bangsa lain untuk pangan kita. Kita impor, impor. Impor pangan tidak masuk di hati saya, tidak masuk di akal saya,” tegas Prabowo.
Pernyataannya di Karawang itu jelas menggambarkan arah prioritasnya. Sebuah komitmen yang ditegaskan di tengah hamparan sawah yang sedang berbuah.
Artikel Terkait
BMW Tercoreng Lesunya Pasar AS dan China di Kuartal Akhir 2025
Trump Tawarkan Rp1,68 Miliar per Warga untuk Beli Greenland, Ditolak Tegas
Gus Yaqut Ditahan KPK, Kooperatif Hadapi Kasus Kuota Haji
Gunungan Sampah Bantargebang Bakal Disulap Jadi Harta Karun Energi