Laporan penjualan kuartalan BMW yang dirilis Jumat (9/1/2025) membawa kabar kurang menggembirakan. Raksasa otomotif Jerman itu mencatat penurunan penjualan pada kuartal terakhir 2025. Ternyata, lesunya permintaan dari dua pasar raksasa, Amerika Serikat dan China, jadi penyebab utamanya.
Secara angka, Grup BMW menjual 667.981 kendaraan pada periode Oktober-Desember 2025. Jumlah itu turun 4,1 persen jika dibandingkan dengan pencapaian di kuartal yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini cukup signifikan dan langsung menarik perhatian analis.
Memang, tidak semua wilayah mengalami kontraksi. Di Eropa, misalnya, justru ada pertumbuhan sebesar 4 persen. Namun begitu, hal itu tak cukup untuk menopang keseluruhan angka. Pasalnya, di dua pasar kunci lainnya, grafiknya justru merah. Penjualan di AS merosot 4,6 persen. Sementara di China, penurunannya bahkan lebih dramatis: 15,9 persen.
Di sisi lain, ada tren lain yang turut memengaruhi hasil ini. Permintaan global untuk kendaraan listrik belakangan ini memang sedang tidak sehangat dulu. BMW pun ikut merasakan dampaknya. Mereka mencatat, penjualan kendaraan listrik berbaterai murni pada kuartal itu anjlok 10,5 persen. Tren ini jelas jadi tantangan tersendiri bagi para produsen yang sedang gencar bertransisi ke elektrifikasi.
Jadi, kombinasi antara melemahnya pasar AS dan China, plus perlambatan di segmen listrik, akhirnya membawa BMW pada hasil kuartal ini. Situasinya cukup kompleks dan patut diamati perkembangannya ke depan.
(Febrina Ratna Iskana)
Artikel Terkait
OpenAI Siapkan Dana Lebih dari US$20 Miliar untuk Amankan Akses Chip Cerebras
Gejolak Selat Hormuz Picu Waktu Kirim Bahan Baku Plastik Melonjak hingga 50 Hari
Bandara Changi Catat Rekor Penumpang Meski Penerbangan Timur Tengah Anjlok
VIVA Apotek Akuisisi Penuh Farmaku, Perkuat Jaringan Ritel Farmasi